Andi Luhur Priyanto, Dosen Ilmu Pemerintahan di Unismuh Makassar
#

Menakar Kekuatan Caleg Incumbent Vs Pendatang Baru

Kamis, 27 Desember 2018 | 13:28 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Caleg pendatang baru tidak ingin kalah dengan manuver politik yang dilakukan dengan para Caleg incumbent. Meskipun Caleg incumbent diunggulkan dengan kemudahan akses politik ke masyarakat, namun sejumlah pendatang baru juga terlihat intens bertemu langsung dengan masyarakat, baik itu melalui kegiatan kampanye terbatas maupun door to door.

Aktivitas Caleg tercermin hampir di semua daerah, khususnya di Sulawesi Selatan. Jelang kurang lebih 3 bulan menjelang hari pemilihan, Caleg incumbent mulai fokus membentuk jaringan politik. Begitupun dengan Caleg pendatang baru, yang memang cenderung membetuk jaringan sejak awal.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyanto yang dikonfirmasi berkaitan dengan persaingan antara Caleg incumbent dan Caleg pendatang baru mengatakan, kekuatan elektoral sangat bergantung pada kesiapan masing-masing Caleg dan partai politik.

“Saya kira tergantung kesiapan masing-masing Caleg dan partai politik. Semua Dapil punya karakter dan level persaingan yang berbeda. Caleg senior petahana yang merawat infrastuktur organisasi dan melayani konstituen dengan baik, tentu punya peluang lebih besar,” kata Luhur, Kamis (27/12/2018).



Meski begitu, dia mengatakan jika Caleg-caleg lama petahana bergerak stagnan dan monoton dalam berinstraksi dengan konstituennya, dalam arti mereka baru turun ke konstituen secara sporadis dan tanpa persiapan yang memadai. Atau baru muncul menjelang momen politik tertentu. Bisa saja kursi yang selama ini dimiliki, akan direbut caleg muda milenial yang lebih siap dan menawarkan model hubungan dan interaksi yang lebih baik.

Dia melanjutkan, fenomena kehadiran Caleg muda milenial memang menggembirakan sekaligus mencemaskan. 

“Menggembirakan karena telah merefleksikan berhasilnya pendidikan politik dan terjadi mobilitas serta sirkulasi elit politik baru. Tetapi juga cukup mencemaskan, karena di beberapa situasi mereka hadir karena patronase elit atau keluarga mereka di partai politik. Mereka cenderung dihadirkan untuk menjadi pelanjut oligarki politik atau sekedar pelengkap dari tuntutan regulasi pemilu,” katanya.

Terpisah, Direktur Nurani Strategic Nurmal Idrus mengatakan, daya tahan Caleg muda dalam perebutan suara kadangkala masih kalah dibanding Caleg yang lebih tua dan berpengalaman. Ini lanjut dia terkait dengan pola pendekatan ke pemilih yang masih dipengaruhi oleh budaya menghormati yang lebih tua.

“Menurut saya, jika hanya mengandalkan pendekatan milenial, maka Caleg muda akan sangat kesulitan menyaingi Caleg yang lebih berpengalaman. Mereka perlu meluaskan kampanyenya dengan juga menyasar pemilih yang lebih tua daripada mereka,” demikian Nurmal.(*)


BACA JUGA