Sanggar Seni Salokoa merayakan malam pergantian tahun, di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Senin (31/12/2018) malam

Rayakan Tahun Baru, Sanggar Seni Salokoa Deklarasi Tolak Politik Uang

Selasa, 01 Januari 2019 | 20:18 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAROS, GOSULSEL.COM — Sekelompok anak muda yang tergabung dalam Sanggar Seni Salokoa merayakan malam pergantian tahun dengan menggelar pagelaran budaya daerah, pembacaan puisi, tari-tarian dan angngaru (sumpah kesetiaan) di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Senin (31/12/2018) malam.

Sanggar seni Salokoa menggandeng Bawaslu Kabupaten Maros. Kegiatan itu dirangkaikan dengan deklarasi tolak politik uang.

Turut hadir dalam kegiatan itu, kepala desa dan perangkat desa Tukamase, Bawaslu Maros, Panwascam dan PPL setempat, tokoh pemuda dan tokoh agama, serta disesaki oleh masyarakat dan warga di Dusun Bungaeja. Hadir juga dalam kegiatan itu, komisioner Bawaslu Sulsel, Saiful Jihad.

Dalam pagelaran ini, bait-bait puisi dalam Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, sandra-tari, lirik-lirik lagu, menyampaikan pesan-pesan untuk menjaga ‘kesucian’ perhelatan demokrasi 17 April nanti, jauh dari perilaku koruptif yang mewujud dalam bentuk politik uang.



Saiful Jihad mengapresiasi kegiatan itu. Dia menilai kegiatan ini tentu sangat bernilai dan bermakna preventif dan edukatif.

“Dengan adanya pagelaran ini, anak remaja yang biasa memperingati pergantian tahun dengan kegiatan yang bersifat hedonis, melakukan arak-arakan, bahkan balapan liar, diberi menu lain dengan pagelaran seni-budaya, yang di dalamnya mengandung pesan dan pembelajaran tentang pentingnya merawat budaya sendiri, budaya Bugis-Makassar yang sarat akan nilai-nilai positif,” kata Saiful.

Dia mengatakan, jika kejujuran dan kesucian hidup telah diabaikan, maka sebenarnya eksistensi kepribadian Bugis-Makassar juga tergerus, dan salah satu bentuk perilaku yang mendegradasi nilai kejujuran dan kesucian dalam menghadapi perhelatan demokrasi, Pemilu 17 April 2019 nanti adalah perilaku Politik Uang.

“Oleh karenanya, pagelaran Seni-Budaya dan Deklarasi Tolak Politik Uang yang diinisiasi sendiri oleh warga, seperti yang dilaksanakan di Dusun Bungaeja ini merupakan hal yang mesti diapresiasi, didorong dan ditumbuh-kembangkan secara masif,” kata dia.

“Agar pesan-pesan yang terefleksi dalam budaya masyarakat lokal dapat menjadi spirit kuat untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang didasari pada nilai-nilai kebajikan dan kebijakan, yang pada ujungnya masyarakat sadar dan mau melakukan upaya perbaikan dan menjaga nilai-nilai tersebut sebagai sebuah identitas diri. Kesadaran ini pada hakikatnya menjadi wujud dan cita-cita dari proses pembangunan dan penguatan demokrasi bangsa ini,” imbuhnya.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat setempat, Sanggar Seni Salokoa dan Bawaslu Maros.

“Terima kasih kepada warga masyarakat Tukamasea, adik-adik Sanggar Seni Salokoa, sahabat-sahabat jajaran Bawaslu Kabupaten Maros, yang telah memberi kesempatan saya hadir, terlibat dan ikut menikmati sajian budaya yang sangat bernilai ini,” tandasnya.(*)


BACA JUGA