BPJS Kesehatan

Anggap Banyak Kekeliruan, Bupati Gowa Tawarkan Solusi Cerdas Pengelolaan BPJS  Kesehatan

Selasa, 08 Januari 2019 | 12:57 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Salah satu alasan Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan YL menolak dan melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sistem Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada tahun 2016 dan 2017 lalu, karena ia menilai bahwa terdapat banyak kesalahan dalam BPJS tersebut.

Bupati Adnan menganggap bahwa penerapan atau pengimplementasian BPJS Kesehatan tidak sesuai dengan esensi dari BPJS tersebut yang menganut semangat gotong royong. Dimana orang kaya membantu pembiayaan kesehatan orang kurang mampu.

“Kenapa saya mengajukan gugatan di Mahkamah Konstitusi? saya sebenarnya hanya ingin memberikan sebuah konsep dan referensi baru terkait dengan BPJS ini. Karena saya mendapatkan begitu banyak, mohon maaf, mohon maaf sebelumya. Saya mendapatkan begitu banyak kesalahan-kesalahan yang ada di dalam BPJS,” ungkap Adnan.

Namun begitu, Bupati Adnan menganggap bahwa konsep BPJS cukup bagus dan perlu diapresiasi. Hanya saja, ada yang perlu diperbaiki, misalnya pembayaran premi atau iuran yang menurutnya tidak sesuai. Terkhusus bagi orang kaya yang dianggapnya membayar terlalu rendah.



“Begini konsep dari BPJS ini sangat bagus sekali, perlu diapresiasi dimana orang yang mampu membiayai orang yang miskin. Tetapi implementasi yang saya rasakan dan hitungan saya ini, menurut saya agak keliru. Kenapa saya katakan keliru? Kalau misalnya kelas satu orang kaya dibiayai dengan premi Rp 80.000 tentu itu bebannya cukup ringan sekali,” lanjut Adnan.

Olehnya itu, Bupati Adnan menawarkan satu konsep dimana premi itu tidak boleh sama rata di seluruh Indonesia dan harus dibagi per regional, berdasarkan kemampuan daerah dan pendapatan per kapita masyarakat di region tersebut.

“Harusnya begitu (tidak sama rata) saya ingin gambarkan, saya ingin kasih contoh konkret, satu orang itu preminya Rp. 80.000 dikali satu tahun itu hanya Rp. 960.000. Kalau sakitnya itu penyakit jantung, cuci darah dan lain-lain itu menghabiskan ratusan juta rupiah. Kalau misalnya preminya hanya Rp. 80.000 untuk 10 tahun itu  hanya Rp 9,6 juta. Jadi untuk bagi orang kaya itu murah sekali,” tandasnya.(*)


BACA JUGA