Rocky Gerung

Rocky Gerung Kritik Legislator Bergaya Tuan-Tuan

Minggu, 13 Januari 2019 | 18:57 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Pendiri Institut Setara, Rocky Gerung diundang sebagai pembicara pada dialog kebangsaan yang diinisiasi oleh Akbar Institut. Kegiatan yang mengusung tema “Indonesia Masa Depan Meluruskan Lintas Kebenaran Sejarah Kebangsaan” digelar di Training Center UIN Alauddin, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Minggu (13/1/2019).

Dalam kesempatan itu, Rocky membahas tentang wakil rakyat atau anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dia mengandaikan anggota DPRD sebagai ‘watchdog’ atau anjing penjaga.

“Dalam bahasa ingris, wakil rakyat itu disebut watchdog, anjing penjaga. Kenapa penjaga, karena dia menggonggongi maling. Menjaga rumah saya, anjing itu menggonggongi maling. Potensi maling dalam demokrasi adalah kekuasaan, pemerintah berpotensi untuk merampok warga negara. Karena itu diperlukan pengawasan, DPR pengawasan,” kata Rocky.

Sebelumnya dia juga menjelaskan, sebelum jadi anggota DPR, seorang legislator meminta kepada orang banyak untuk dipilih.



“Meminta-minta kepada orang banyak, pilih saya yah, tolong pilih saya saudara-saudara, nanti saya perjuangkan. Mereka meminta, mengemis suara dari saudara, setelah menjadi anggota DPR mereka jadi tuan. Kalau mau ketemu anda mesti lapor sekretaris, sekretaris bilang tunggu, sudah ada jadwal lapor satpam, satpam bilang tunggu ajudan belum mengizinkan. Berlapis-lapis anda untuk berhubungan dengan wakil anda yang tadinya adalah pengemis,” kata Rocky.

Dalam metafor, kata Rocky disebut ‘watchdog’. “Jadi anjing saya untuk menggonggongi pemerintah, itu logikanya,” kata dia.

Bahkan dalam bahasa latin, kata dia lebih sadis lagi, karena disebut anjilus. “Anjilus artinya budak. Anggota DPR adalah budak rakyat,” tuturnya.

Namun kata dia, untuk sekarang ada kesan terbalik. “Dia mewakili kepentingan saya. Sekarang terbalik, anjing itu menggonggongi saya, apa tidak kurang ajar itu anjing,” ujar Rocky disambut tepuk tangan peserta dialog kebangsaan.

Bahkan dia menjelaskan, bahwa pikiran seorang anggota DPRD saat ini terkesan terbalik. Ada yang mesti diteriaki, namun didiami.

“Pikiran kita terbalik-balik dalam memyelenggarakan demokrasi, itu pikiran pertama tentang kekacauan konsep berbangsa dan berdemokrasi tuh. Yang ingin kita revisi, mulai hari ini dan untuk selamanya. Jadi itu keadaan kita, kedaan terakhir kondisi demokrasi kita,” tandasnya.(*)


BACA JUGA