Debat perdana capres 2019
#

Mantan Napi Korupsi Caleg Gerindra Jadi Perdebatan Panas

Jumat, 18 Januari 2019 | 11:19 Wita - Editor: Irwan AR - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

JAKARTA, GOSULSEL.COM – Mantan koruptor atau narapidana korupsi yang masuk dalam daftar calon anggota legislatif (Celeg) Partai Gerindra menjadi perdebatan panas pada debat kandidat perdana Capres dan Cawapres yang digelar Hotel Bidakarta, Jakarta, Kamis (7/1/2019).

Dia menjelaskan bahwa sebelumnya Prabowo pernah mengatakan, korupsi di Indonesia sudah masuk stadium empat. Jokowi mengaku tidak sepakat dengan pernyataan itu. Kemudian dia mempertanyakaan komitmen Prabowo, menurut dia kontradiktif lantaran partai yang dipimpin Prabowo adalah salah satu partai yang mencalonkan mantan koruptor atau mantan Napi korupsi sebagai Caleg pada Pileg 17 April 2019. Kata Jokowi, hal itu berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW).

“Kita tahu, korupsi adalah kejahatan yang luar biasa. Bahkan pak Prabowo pernah mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah stadium empat, meskipun ini saya ngak setuju. Saya ngak setuju. Tapi menurut ICW, ini menurut ICW. Partai yang bapak pimpin termasuk partai yang paling banyak mencalonkan mantan koruptor atau mantan napi korupsi,” kata Jokowi disiarkan secara langsung di beberapa stasiun TV.

Dia meminta Prabowo untuk menjelaskan hal itu. “Yang saya tahu, Caleg itu yang tandatangan adalah ketua umumnya. Berarti pak Prabowo yang tandatangan. Bagaimana bapak menjelaskan mengenai ini,” kata Jokowi ke Prabowo.



Menanggapi hal itu, Prabowo mengelak. Pasangan Sandiaga Salahuddin Uno ini mengaku belum mendapat data itu. Bahkan dia meminta Jokowi melaporkan jika ada bukti.

“Itu mungkin ICW. Tapi saya belum dapat itu, dan saya kira itu benar-benar sangat subyektif, saya tidak setuju itu, saya seleksi Caleg-caleg tersebut. Kalau ada bukti, salahkan juga laporkan kepada kami,” ungkap Prabowo.

Ketua Umum DPP Gerindra ini menyeret nama-nama partai lain. Dia mengatakan, jika dicek di Kejaksaan sudah banyak orang yang menunggu panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Begini pak, ada juga kadang-kadang tuduhan-tuduhan korupsi, yang korupsinya itu yah, menerima THR seluruh DPRDnya. Semuanya lintas partai pak, kalau kita sekarang bisa cek di kejaksaan, boleh kita bandingkan beberapa orang sekarang yang menunggu masuk KPK atapun di dalam penjara, kita bisa cek,” ujarnya.

Prabowo langsung meminta Jokowi untuk tidak saling menuduh partai masing-masing. Diapun dengan tegas menjamin Gerindra adalah partai anti korupsi. Prabowo mengancam akan memenjarakan Caleg Gerindra yang terlibat korupsi.

“Saya kira janganlah kita menuduh soal partai kita masing-masing. Saya jamin partai Gerindra akan melawan korupsi sampai ke akar-akarnya. Kalau ada kader Gerindra yang korupsi, saya yang kasi masuk penjara, saya sendiri,” tegasnya.

Waktu menjawab pasangan 02 habis. Moderator kembali memberikan kesempatan kepada pasangan 01 untuk melayangkan tanggapan balik. Jokowi bahkan menyebut jumlah Caleg Gerindra yang telah dihukum lantaran terlibat korupsi. Ada enam kata petahana ini.

“Mohon maaf pak Prabowo, yang saya sebut tadi mantan koruptor atau mantan Napi korupsi yang bapak calonkan sebagai Caleg. Itu ada, ICW memberikan data itu jelas sekali, ada enam orang yang bapak calonkan, dan yang tanda tangan dalam pencalegkan itu adalah ketua umumnya dan sekjen. Artinya bapak yang tandatangan,” kata Jokowi sambil menunjuk ke arah Prabowo.

Saat Jokowi masih bicara, tiba-tiba Prabowo bicara, dia hendak interupsi. Namun moderator tidak mengizinkan.

“Mohon maaf pak Prabowo, jadi saya tidak menuduh partai bapak korupsi, endak, bukan. Ini mantan koruptor, mantan Napi korupsi yang sudah dihukum,” ujar Jokowi melanjutkan pembicaraanya.

Terakhir, moderator memberikan kesempatan terakhir untuk paslon 02. Prabowo beralibi bahwa Pileg adalah proses demokrasi. Selama tidak melanggar hukum, biarkan rakyat yang menilai.

“Jadi mantan Napi korupsi, saya kira kita pelajari dan begini, ini kan demokrasi pak. Kita umumkan saja kerakyat, kalau rakyat endak mau milih yah endak dipilih. Kan begitu. Yang jelas pak, kalau kasus itu sudah melalui proses, dan sudah dihukum, dan kalau hukum mengizinkan dan dia dianggap masih bisa dan rakyat menghendaki dia, karena dia punya kelebihan-kelebihan lain, dan mungkin korupsinya juga endak seberapa mungkin dia kena, eh begini, kalau dia curi ayam benar itu salah, tapi kalau merugikan rakyat triliunan itu saya kira yang kita habiskan di Indonesia ini,” tandas Prabowo.(*)
Attachments area

Berawal saat calon presiden nomor 01, Joko Widodo diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan seputar korupsi oleh moderator. Pasangan KH. Ma’ruf Amin langsung menyinggung partai yang dipimpin oleh calon presiden 02, Prabowo Subianto, yakni Partai Gerindra. Padahal dalam penulusuran Gosulsel. soal mantan napi Koruptor, Presiden Jokowi pernah menanggapi hal ini di media ketika KPU ngotot untuk melarang koruptor jadi caleg, Jookowi menyatakan mantan napi koruptor punya hak yang sama untuk nyaleg.(*)


BACA JUGA