Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yodhoyono (AHY), saat menghadiri jumpa pers, di Hotel Novotel Grand Shayla, Selasa (22/1/2019)/Muh Fardi/Gosulsel.com
#

37 Persen Konstituen Demokrat Pilih Jokowi, Begini Alasan AHY

Selasa, 22 Januari 2019 | 21:48 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Median merekam sebanyak 37,9 persen konstituen Partai Demokrat tidak memilih pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno di Pilpres 17 April 2019 mendatang. Hal ini tercermin dari survei Median yang dilakukan mulai 1 sampai 15 Januari 2019.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error survei +/- 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95%. Median menggunakan sebanyak 1.500 responden yang tersebar secara acak.

Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yodhoyono (AHY) yang dikonfirmasi berkaitan hal itu mengatakan, memang pemilih Demokrat sangat luas. 

“Nasionalis, religius, partai moderat yang heterogen. Karena kami nasionalis, kami punya kepala daerah di Aceh, kami punya kepala daerah di Papua. Bayangkan dua kutub yang berbeda, satu Syariat Islam, Aceh di barat, di timur tentu kita tahu saudara-saudara kita lebih mayoritas ummat nasrani, tapi dua-duanya kepala daerahnya adalah Demokrat,” kata AHY, Selasa (22/1/2019).



Di tempat lain, lanjutnya juga ada seperti itu. Hal inilah kata dia, yang membedakan Demokrat dengan partai homogen. Di mana ada partai yang berbasis Islam.

“Kemudian misalnya basisnya di Jawa Timur, karena pemilihnya NU (Nahdatul Ulama), lebih homogen, atau basisnya Muhammadiyah,” ucapnya.

Akan tetapi, jika membaca beberapa hasil survei, partai homogen juga tidak 100 persen konstituennya mendukung usungan di Pilpres mendatang. “Tetap ada proporsi tertentu yang memiliki preferensi lain. Nah apalagi partai-partai nasionalis juga demikian, termasuk Demokrat. Golkar saya rasa sebagai partai nasionalis juga punya preferensi tersendiri,” kata dia.

Olehnya, kata dia, sangat wajar jika di survei ada sekelompok konstituen lebih cenderung punya preferensi memilih paslon yang tidak diusung secara resmi oleh Partai Demokrat.

“Tetapi lagi-lagi kami tidak memusingkan itu, karena ini sebuah konsekuensi dari sistem baru Pemilu kita (bersamaan dengan Pileg dan Pilpres). Justru kami punya agenda dan tujuan yang kami tuju dengan strategi ganda, yaitu memenangkan Partai Demokrat di Pileg dan sukseskan pemilihan presiden. Itulah menjadi kekuatan yang menjadi perjuangan tiga bulan ke depan,” tandasnya.(*)


BACA JUGA