IKADY Gowa: Zakat Adalah Raksasa Ekonomi yang Harus Dibangkitkan

Senin, 03 Juni 2019 | 19:15 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Ikatan Da’iyah (IKADY) Kabupaten Gowa mengajak seluruh masyarakat untuk mengueluarkan zakat di akhir ramadhan sebagai bentuk ibadah sosial.

“Puasa adalah Ibadah ritual seorang hamba,  yang ditutup dengan perintah mengeluarkan zakat sebagai bentuk ibadah sosial,” ujar Ketua Ikatan Da’iyah (IKADY) Kabupaten Gowa, Dr. Fatmawati Hilal, saat menghadiri pembagian zakat di Masjid Nurul Ihsan, BontoTanga-Pao-Pao,  Minggu (2/5/2019).

Ia juga menjelaskan bahwa zakat merupakan raksasa ekonomi yang harus dibangkitkan, untuk mengangkat ekonomi umat Islam. Menurutnya, jika perintah zakat dengan berbagai jenisnya itu dilaksanakan dengan baik oleh umat Islam lalu disalurkan tepat sasaran, maka tidak ada umat yang miskin.

Olehnya itu, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini menyebutkan sejumlah manfaat zakat, baik bagi yang  mengeluarkan maupun yang menerima zakat.



“Manfaat zakat bagi muzakki atau pemberi zakat yaitu dapat menyadarkan bahwa hakikat harta yang kita miliki adalah milik Allah SWT semata. Saat Allah SWT memerintahkan kita untuk mengeluarkan sebagian harta tersebut kita harus mentaatinya. Selain itu, zakat juga akan membersihkan jiwa kita dari sikap tamak harta dan jauh dari sifat kikir,” ujarnya.

Sementara itu, lanjut Fatmawati Hilal manfaat sedekah atau zakat bagi mustahiq atau penerima zakat, yaitu dapat meringankan beban ekonomi. Menghindarkan dari perbuatan jahat seseorang yang salah dalam menyikapi beban hidup.

“Karena kemiskinan terkadang membuat seseorang berburuk sangka kepada Allah, mau bunuh diri bahkan mau membunuh anaknya,” jelasnya.

Tak hanya itu, zakat juga memungkinkan seseorang mengubah keadaan diri mereka dengan modal zakat yang mereka terima. Menurutnya zakat atau sedekah bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. 

“Mereka yang mendapatkan zakat hari ini harus punya target. Agar bisa lepas dari mata rantai kemiskinan. Kalo saat ini menerima, maka harus berupaya maksimal, agar generasi penerus nanti jangan hanya berharap dari sedekah,  tapi harus berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Mata rantai kemiskinan harus diputus. Tidak boleh menjadi warisan kepada anak cucu,” tegasnya.

Selain itu, Pembina Pramuka UIN Alauddin Makassar ini juga menyebutkan zakat atau sedekah dapat mempersempit jurang perbedaan antara si kaya dengan si miskin dan menjalin persaudaraan yang erat antara sesama muslim.

Olehnya itu, Fatmawati Hilal mengajak untuk senantiasa mengeluarkan sedekah atau zakat. Menurutnya sedekah tidak tergantung banyaknya atau sedikitnya, tetapi seberapa jauh pengorbanan seseorang untuk berzakat.

“Ada yang bersedekah Rp 1 juta, tapi baginya itu longgar. Ada yang bersedekah 5000, tapi baginya itu sangat berat. Maka bersedekah Rp 5000 lebih tinggi nilainya,  ketimbang sedekah Rp 1 juta. Bentuk sedekah itu bukan hanya harta tapi bisa sedekah jasa. Meski dengan dana yang sedikit, bisa beli sendal jepit atau kerudung salat baru sedekahkan di masjid. Kalo sama sekali tidak bisa lagi, sedekahlah dengan menebar senyum kepada saudaramu,” tutupnya.(*)


BACA JUGA