Calon Wali Kota Makassar, Muhammad Ismak periode 2020 mendatang menjaring aspirasi para pengusaha muda Kota Makassar di Taman Macan, Jumat (6/9/2019)

Muhammad Ismak Menjaring Aspirasi Pengusaha Muda Makassar

Jumat, 06 September 2019 | 22:23 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Melihat pertumbuhan ekonomi digital yang tumbuh semakin menggeliat. Calon Wali Kota Makassar, Muhammad Ismak periode 2020 mendatang menjaring aspirasi para pengusaha muda Kota Makassar di Taman Macan, Jumat (6/9/2019).

Untuk menjaring aspirasi para pengusaha muda (Milenial Entrepreneur). Muhammad Ismak bersama milenial entrepreneur dari pelbagai bidang barang maupun jasa seperti pengusaha santan, peternak ayam, pengusaha kuliner, pengusaha jasa kreatif ataupun warung kopi mendiskusikan aspirasi para pengusaha muda.

muhammad-ismak

Ketua Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) ini mengatakan bahwa iklim sekarang ini luar biasa mendukung para pengusaha, internet bahkan meluluhlantahkan teori-teori perdagangan dulu, yang memudahkan para pengusaha untuk merintis usahanya dan juga pemerintah perlu mendukung para pengusaha.

“Seharusnya usaha-usaha rintisan para pemula pengusaha muda di perhatikan oleh pemerintah, paling tidak mendidik para pengusaha muda,” ungkapnya.



Jadi di samping bakat yang dimiliki, lingkungan juga harus mendukung.

“Karena itu saya mau mengajak untuk mengubah pola pikir dulu bahwa pemerintah bukan pengusaha tapi pelayan itu dulu yang harus kita kembalikan ke dasarnya, karena kalau kita bicara pelayanan ada moral karena saya melakukan itu berdasarkan aspirasi,” tambahnya.

Salah seorang pengusaha muda peternak ayam, Imam mengeluhkan beberapa persoalan yang dialaminya, selain sulitnya menemukan asupan makanan ayam atau pakan, pemasaran pun menjadi persoalan lantaran tidak adanya pihak yang menjaga harga yang akhirnya merugikan para peternak ayam.

“Persoalan yang selama ini saya alami adalah masalah pemasaran selain mengimpres pakan, tidak adanya perhatian dari pemerintah daerah Kota Makassar kecuali pada saat pembibitan,” ungkapnya.

Selain itu, Imam mengatakan kendala lain yang dialaminya adalah tidak adanya asosiasi yang menampung aspirasi para peternak ayam dalam menjaga distribusi harga.

“Masalahnya, karena tidak ada asosiasi yang bisa menampung aspirasi para peternak ayam, bahkan saya pernah hanya mendapatkan keuntungan Rp400 ribu/100 ekornya dalam waktu 2 bulan,” tambahnya.

Milenial Entrepreneur sendiri diadakan di taman untuk mendorong pemanfaatan taman kota sebagai wadah interaksi yang selama ini pemanfaatannya masih sangat minim dan bagaimana warga kembali merebut kotanya.(*)

BACA JUGA