FOTO: Perantau Wamena Papua asal Kabupaten Gowa, Nurul Yaqin/Minggu, 6 Oktober 2019/Junaid/GOSULSEL.COM

Kisah Warga Gowa Hingga Selamat Dari Kerusuhan Wamena

Minggu, 06 Oktober 2019 | 11:27 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Tak ada yang berbeda pagi itu, semua terasa seperti hari-hari sebelumnya. Senin pagi (23/9/2019) arus lalu lintas kendaraan di Jalan Timur Kota Wamena tampak normal, cuaca pagi itu juga cerah berawan.

Nurul Yaqin tiba di Kantor Pos tempatnya bekerja sekitar pukul 08:00 Waktu Indonesia Timur. Aktivitas di kantor berjalan seperti biasanya. Menurutnya tidak ada tanda-tanda akan terjadi kerusuhan yang sampai menewaskan 33 orang tersebut 

“Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, hari Senin itu semua siswa sekolah tetap belajar, sekolah juga tidak diliburkan, semuanya seperti biasa,” kata Nurul Yaqin saat ditemui di rumah keluarganya Griya Majannang Permai Pallangga, Sabtu kemarin (5/10/2020).

Hanya berselang beberapa saat, tepatnya sekitar pukul 09:00 WIT pagi semua yang tampaknya biasa-biasa saja langsung berubah mencekam dan menakutkan. Saat itu dirinya tengah masih bersih-bersih dalam gedung kantor Pos Kota Wamena Papua.

“Selesai bersih-bersih di Kantor tiba-tiba ada orang teriak-teriak dari luar kantor katanya ada kerusuhan dan pembakaran. Saya kaget, kan selama ini masyarakat sipil baik-baik saja. Kita tidak pernah mendengar apa-apa. Jadi kejadiannya betul-betul secara tiba-tiba,” ungkapnya.

Sejak saat itu, kota Wamena yang sebelumnya aman langsung berubah mencekam. Nampak di pandangan Nurul Yaqin terjadi pembakaran, pengerusakan dan suara teriakan di pusat Kota Wamena. Gumpalan asap hasil pembakaran terlihat menjunjung tinggi ke langit.

Peristiwa yang membuat ribuan orang harus mengungsi tersebut merupakan kejadian pertama yang Nurul Yaqin alami semenjak berada Wamena sejak Lima tahun lalu. Kemudian tanpa berfikir panjang seteleh mendengar informasi tersebut, Nurul Yaqin langsung bergegas menuju rumah kontrakan di Jalan Honai Lama Wamena untuk menemui Isteri Titin Irayani dan dua orang anaknya Arsila Nahwa dan Dzaki Zafran Syabani serta adiknya.

“Setelah itu saya balik ke kios ke rumah karena istri saya menelepon katanya ada kerusuhan dan sayakan punya dua anak kecil. Kami bersembunyi di dalam rumah dan saya bersembunyi di tuan tanah ada namanya kepala suku di situ beliau bernama Lio Kosai,” ujarnya.

Selama kurang lebih 8 jam, Nurul Yaqin bersama Isteri dan dua orang putri kecilnya bersembunyi di rumah ketua suku. Sekitar pukul 16:00 WIT sejumlah aparat kepolisian dan TNI mulai mengevakuasi warga termasuk dirinya untuk mengungsi ke Kodim 1702.

Situasi yang sangat mencekam sore itu membuat Nurul Yaqin dan keluarganya tak sempat menyelematkan harta benda yang ia miliki. Bahkan menurutnya ia bersama keluarga hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuh

Kodim 1702 menjadi salah satu tempat pengungsian di Kota Wamena. Nurul Yaqin bertahan selama 6 hari di Kodim 1702 bersama ribuan pengungsi lainnya sebelum ia diberangkatkan ke Jayapura menggunakan pesawat herkules milik TNI Angkatan Udara (AU).

“Untuk bisa menggunakan herkules, kami harus menunggu karena waktu itu padat sekali orang berdesak-desakan untuk naik herkules. Satu minggu saya ngungsi di Kodim, habis itu saya ke Jayapura rumah keluarga,” kisahnya.

Setelah dua hari mengungsi di rumah keluarga di Jayapura dan melihat kondisi Wamena yang masih mencekam, Nurul Yaqin memutuskan untuk membawa keluarganya kembali ke Gowa. Berkat pinjaman uang, ia akhirnya menggunakan pesawat komersil untuk membawa keluarganya kembali ke Kabupaten Gowa.

“Dari Jayapura ada yang dermawan membantu saya, saya pinjam dulu uang untuk beli tiket. Yang penting Isteri dan anak-anak saya sampai ke Gowa ke Makassar dulu,” ungkapnya.

Kepada Gosulsel.com, Nurul Yaqin yang ditemui di rumah keluarganya Desa Bontoala Kecamatan Pallangga juga mengungkapkan bahwa keberadaan di Wamena sejak 2015 lalu karena ditugaskan sebagai Da’i pedalaman dari Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Jawa Timur.

Selama menyebarkan syiar Islam di tanah Papua tersebut, Nurul Yaqin mengungkapkan bahwa tidak ada kendala berat yang ia hadapi. Bermodalkan ilmu agama yang ia peroleh selama mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Jawa Timur, Nuril Yaqin terus berdakwah dari masjid ke masjid. 

Memanfaatkan waktu luangnya, selain sebagai pegawai di Kantor Pos, ia juga memanfaatkan waktunya untuk mengajar mengaji anak-anak penduduk muslim. Selama perjalanan dakwahnya, Nurul Yaqin mengaku juga sudah mengislamkan beberapa warga non muslim.

“Selama ini saya di sana itu ngajar anak-anak ngaji. Artinya selama ini saya bersama masyarakat Papua itu baik baik saja. Orang Papua itu semuanya baik-baik orang Papua semuanya ramah-ramah. Cuma ini adalah musibah bagi kita semua kita harus bersabar,” ucapnya.

Sementara untuk kembali ke Kota Wamena, Nurul Yaqin mengaku butuh untuk berfikir 3 kali. Menurutnya peristiwa kerusuhan, perusakan, pembakaran dan teriakan yang terjadi di depan mata masih terngiang-ngiang di ingatannya. Rasa trauma yang ia alami bersama keluarga membuatnya harus berfikir panjang untuk kembali ke Wamena.

“Kita lihat kondisi dulu situasi dulu, memang trauma masih ada di antara kita, saya sendri masih trauma melihat kejadian itu. Wallahu ‘a’lam Kita tidak tahu kedepannya bagiamana. Kalau misalnya ada yang lebih biak untuk sementara saya di Gowa dulu. Untuk sementara saya bertahan di sini dulu siapa tahu nanti ada jalan lebih baik,” harapnya.

Di Kabupaten Gowa sendiri, Nuril Yaqin mengaku tidak membawa apa-apa. Kecuali pakaian yang melekat dan beberapa bantuan dari dari dermawan. Sementara itu, saat ini Nurul Yaqin tinggal di rumah keluarganya sang isteri di Griya Majannang Permai Desa Bontoala Kecamatan Pallangga.(*)


BACA JUGA