Luka lebam tampak di wajah Abu Bakar Ramadhan, siswa SMK Negeri 2 Gowa yang menjadi korban kekerasan sekelompok orang, Jumat (21/2/2020)

Pimwil PM Desak Disdik Sulsel Evaluasi Sistem Keamanan di SMKN 2 Gowa

Minggu, 23 Februari 2020 | 15:21 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Rusli - GoCakrawala

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Kasus kekerasan (bullying,red) yang dialami siswa SMK Negeri 2 Gowa, Abu Bakar Ramadhan menjadi perhatian pelbagai kalangan. Tak terkecuali Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan. 

Ketua Hukum dan HAM Pimwil PM Sulsel, DR. Ridwan Fawallang mendesak Dinas Pendidikan Sulsel turun tangan. Terutama mengevaluasi sistem keamanan siswa dan guru di SMK Negeri 2 Gowa.

“SMA ini kan di bawah kewenangan Disdik Provinsi Sulsel. Makanya, kami juga minta Plt Disdik Sulsel mengevaluasi Standar Operasional Prosedur (SOP) jaminan keamanan siswa dan guru di lingkungan sekolah di sana (SMK Negeri 2 Gowa,red),” desak DR Ridwan melalui rilis, Minggu (23/2/2020).

Menurutnya, terkait kejadian yang dialami Abu Bakar Ramadhan, diduga karena keamanan di SMK Negeri 2 Gowa lemah. Indikasi itu, lanjut dia, terlihat dengan bebasnya orang luar masuk ke sekolah melakukan tindak kekerasan. 



Ridwan juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas pelaku kekerasan terhadap Abu Bakar Ramadhan. 

“Kepada pihak Polres Gowa untuk segera menangkap para pelaku dan menghukum dengan adil. Agar ada efek jera, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang di kemudian hari,” tukasnya.

Abu Bakar Ramadhan sendiri dilaporkan dianiaya oleh sekelompok orang. Kejadiannya, Jumat, 21 Februari 2020 di SMK Negeri 2 Sungguminasa. Pada saat proses belajar sedang berlangsung, tiba-tiba sekitar lima orang langsung masuk ke sekolah dan mengaku sebagai petugas kepolisian. Petugas gadungan itu kemudian masuk ke ruang kelas 10 jurusan teknik komputer jaringan B tempat Abu Bakar belajar.  

Guru kelas sempat bertanya maksud kedatangan mereka. Sikap mereka kasar. Guru kelas korban pun dibentak. Seraya mereka meminta guru tidak ikut campur. 

Sekelompok preman ini kemudian menarik korban kemudian memukulinya beramai-ramai. Korban diinjak, dipukuli lagi sampai tidak bisa berdiri.

Belum selesai. Korban tersebut kembali dipukuli, kemudian diseret keluar sekolah. Diangkat keluar sekolah kemudian dimasukkan ke dalam bagasi mobil.

“Sekolah tidak aman bagi anak saya,” sesal orang tua Abu Bakar, Irwan Dg Tompo. 

Ia berharap pihak kepolisian harus menegakkan hukum seadil-adilnya. Kadis pendidikan juga bertanggung jawab menyiapkan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak.

“Tangkap pelakunya. Adili seadil-adilnya. Pihak sekolah dan dinas pendidikan terkait juga harus bertanggung jawab,” ucap Irwan.(*)


BACA JUGA