Ilustrasi Virus Corona

Makassar Jadi Episentrum Corona, Peneliti Unhas Dorong Pemerintah Segera Putuskan PSBB

Minggu, 12 April 2020 | 13:45 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar didorong untuk segera menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini mesti diterapkan di Makassar.

Pasalnya, ibukota Sulsel ini telah menjadi episentrum dari penyebaran virus Corona atau Covid-19. Ketua Tim Peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas), Ansariadi menyebut jika pihak pemerintah mesti secepatnya untuk memutuskan penerapan kebijakan ini.

Demikian pula dengan segala persiapannya. Menurut Ansariadi, pemerintah harus segera mematangkan persiapan sebelum menerapkan PSBB. Seperti dampak ekonomi bagi masyarakat.

Akan tetapi, hal tersebut tidak boleh dipikirkan terlalu lama oleh pihak pemerintah. Sebab, penyebaran virus kian meluas tiap harinya. 



“Kalau di Makassar dilakukan PSBB memang sudah harus dipertimbangkan ini secepatnya harus dibarengi dengan kesiapan pemerintah. Lebih bagus pemerintah mempersiapkan pelaksanaan PSBB di Makassar sambil menunggu hasil kajiannya. Kalau bisa secepatnya diputuskan,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (12/4/2020).

Dosen Epidemiologi FKM Unhas ini menjelaskan, memang tidak perlu menunggu waktu lama untuk menerapkan kebijakan ini. Sebab, Makassar juga telah masuk dalam zona merah. Dimana dalam beberapa hari terakhir, penyebaran virus ini semakian luas dan menyebar cepat kemana-mana.

“Lebih cepat lebih bagus mengingat penularannya akan semakin meluas,” lanjutnya.

Berdasarkan analisa oleh Tim Peneliti FKM Unhas, pihaknya memprediksi ada 80 ribu kasus Corona di Sulsel. Prediksi jumlah tersebut berpotensi terjadi jika tidak ada intervensi dari pemerintah. 

“Kalau berdasarkan grafik, sekitar 80 ribu kasus. Dalam beberapa minggu kedepan kita akan mengalami pertambahan kasus yang cukup banyak karena peningkatan kasusnya bersifat exponesial, bukan liner. Ini yang harus kita perhatikan,” katanya.

Analisa ini sendiri menggunkan pemodelan matematika, yakni model Richard’s Curve. Dimana perumusan dari model logistik juga digunakan pada kajian ini untuk mengaproksimasi data kasus Covid-19 di Indonesia oleh peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning.(*)


BACA JUGA