Kondisi Poros Malino, Kabupaten Gowa yang ditumbuhi semak-belukar di sisi kiri-kanan saat diabadikan, Kamis, 30 April 2020.

Poros Malino Ditumbuhi Semak-Belukar, LKPN : Penanganan Rumija tak Maksimal

Kamis, 30 April 2020 | 20:42 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Rusli - GoCakrawala

GOWA, GOSULSEL.COM– Kondisi ruas jalan provinsi di Kabupaten Gowa masih dikeluhkan masyarakat. Penanganannya dinilai belum maksimal.

Salah satu contoh jalan Poros Malino. Ruas milik jalan (Rumija) Poros Malino tidak tertangani dengan baik.

Aktivis Lembaga Pemantau Konstruksi Nasional (LPKN), Yusran Yusuf menyebutkan, rumija sepanjang Poros Malino banyak dipenuhi semak-belukar.

Hasil pantauan pihaknya di lapangan, tanaman liar itu tumbuh subur di kiri-kanan jalan. Hal ini, menurut Yusran mengundang kerawanan.



Sebab, bisa saja, rumija dimanfaatkan oleh ular menjadi tempat persembunyian. Imbasnya membahayakan warga dan pengguna jalan.

“Sebab, binatang melata itu, sewaktu-waktu bisa melintas di badan jalan dan membahayakan pengendara,” ungkap Yusran, Kamis (30/4/2020)

Dia pun menduga, pemeliharaan jalan yang dilakukan pihak terkait tidak sesuai time schedule. Seharusnya, penanganan rumija dibersihkan empat kali setahun.

“Jika melihat kondisi rumija seperti itu pertanda pemeliharaan jalan dilakukan asal-asalan. Termasuk penanganan badan jalan yang rusak. Banyak asal tempel,” ungkapnya.

LPKN, lanjut Yusran, telah mengkaji masalah penanganan jalan ruas Poros Malino. Terutama penanganan jalan tahun 2019 lalu. Rencananya, pihaknya akan melaporkan hal ini ke aparat penegak hukum.

“Ada indikasi korupsi terhadap anggaran pemeliharaan jalan Poros Malino tahun 2019. Dalam waktu dekat kami laporkan ke pihak berwajib agar bisa diusut,” tegasnya.

PPTK Pemeliharaan Jalan Wilayah Makassar, Gowa, Maros, Pangkep Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Provinsi Sulsel, Iskandar yang dikonfirmasi mengaku pelaksanaan pemeliharaan jalan, khususnya rumija Poros Malino sudah maksimal.

Volume pekerjaan di lapangan, kata dia, telah sesuai yang ada dalam program.

“Kita berdasar volume. Jadi bisa saja cuma satu kali, karena diprogramnya begitu. Seperti tahun lalu di program awal memang sedikit. Karena kita mau fokus ke perkerasan jalan. Tapi setelah ada revisi kita minta tambahan,” dalih Iskandar. (*)


BACA JUGA