Pemulung di sepanjang Jalan Hertasning. (Foto: Andi Nita Purnama)

Anjal dan Gepeng Bebas Berkeliaran, Dinsos Makassar Terkendala Tempat Penampungan

Selasa, 12 Mei 2020 | 18:22 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Persoalan anak jalanan (Anjal) dan gelandangan dan pengemis (Gepeng) tiada habisnya dibahas. Pasalnya, mereka masih berkeliaran di Kota Makassar.

Terlebih saat menjelang Idul Fitri, anjal dan gepeng masih terlihat di pinggir jalan Kota Makassar. Mereka menunggu warga yang merasa iba dan ingin memberikannya sejumlah uang.

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Makassar menyebut jika masalah ini terus dihadapinya tiap tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Kadinsos, Mukhtar Tahir saat ditemui di Posko Covid-19 Makassar, Senin (12/5/2020).

Ia menjelaskan, bahwa tiap tahunnya menjelang Idul Fitri, anjal dan gepeng sudah mulai tersebar hampir di semua titik di kota Makassar. Meski ada penerapan PSBB, namun jumlahnya masih tetap banyak walau tak seperti tahun sebelumnya.



“Ini kan mendekati Idul Fitri, setiap tahun fluktuasinya tinggi. Tapi saya yakin itu tidak sebanyak tahun lalu karena dengan berlakunya PSBB, berarti pembatasan di batas wilayah itu agak terbatas,” jelasnya. 

Kehadiran anjal dan gepeng memang menjadi persoalan tersendiri bagi pihaknya. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya biasa menertibkan mereka lalu membawanya ke tempat penampungan. 

Namun, Mukhtar mengaku, jika tempat penampungan saat ini tak bisa lagi menampung banyaknya anjal dan gepeng. Mereka yang berada di penampungan juga tak bisa berlama-lama ditahan.

Sebab, masih ada anjal dan gepeng yang lain yang akan ditampung. Olehnya, itu pembinaan singkat dilakukan agar mereka yang berada di tempat penampungan bisa keluar. 

“Karena mereka ini tidak ditahan karena pemerintah tidak punya tampungan tapi paling tidak dalam 1-2 hari kita bisa beri pencerahan kepada mereka untuk diberikan pembinaan di tempat,” jelasnya.

Tak ingin persoalan ini terus berulang tiap tahunnya, ia selalu menyampaikan keluhannya ini kepada pemerintah terkait. Akan tetapi, tak kunjung ada perkembangan. 

“Saya kemarin selau sampaikan bahwa pengalaman demi pengalaman memberi warna baru kepada kita, kenapa kita tetap dengan kondisi seperti ini. Berarti ada piranti yang kita lewati, jawaban salah satunya ketersediaan dari pusat pengelolaan anjal, di pondok sosial,” tutupnya.(*)


BACA JUGA