Turki Mengubah Hagia Sophia Jadi Masjid, HMI MPO: Itu Kedaulatan Turki

Rabu, 15 Juli 2020 | 19:39 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memutuskan untuk mengalihfungsikan museum Hagia Sophia (Aya Sofya) menjadi Masjid. Keputusan ini ditetapkan setelah Dewan Negara membatalkan keputusan kabinet di zaman pemerintahan Kemal Ataturk tahun 1934.

Keputusan tersebut menetapkan Hagia Sopiah yang mulanya difungsikan sebagai masjid di zaman kekaisaran Ustmaniyah menjadi museum. Namun, saat ini Presiden Erdogan hendak mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid. Keputusan terserbut direspons oleh sejumlah Negara

Terkait pro-kontra terhadap perubahan Hagia Sophia menjadi masjid, PB HMI MPO memandang hal tersebut adalah hak kedaulatan Turki atas Hagia Sophia dan perlu dihargai. Ketua Komisi Intelektualitas dan Peradaban Islam PB HMI MPO Muhajir MA memandang, hal tersebut adalah urusan internal Turki dan sudah melalui proses keputusan hukum. “Keputusan hukum tersebut sebaiknya dihargai oleh seluruh pihak,” ujarnya, Rabu (15/7/20).

Bagi Muhajir, Hagia Sophia bukanlah bangunan bersejarah pertama yang melalui perubahan alih fungsi seperti ini. Masjid Cordoba sebagai bangunan bersejarah peradaban Islam di Andalusia (sekarang Spanyol) dulunya adalah katedral bernama Visigoth St Vincent.



Memasuki tahun 784 M di bawah kepemimpinan Abd ar-Rahman I zaman kejayaan Dinasti Umayya, bangunan tersebut direnovasi dan akhirnya menjadi tempat ibadah umat Islam yang dalam sejarah dikenal dengan nama masjid Cordoba. Setelah penaklukkan kembali umat Kristen di Spanyol, Masjid Cordoba akhirnya dialihfungsikan menjadi katedral hingga saat ini.

Ketika Hagia Sophia hendak dikembalikan statusnya menjadi masjid, hal tersebut tentu bukan sebuah masalah besar, apalagi Hagia Sophia saat ini sepenuhnya milik Turki, dan tentunya punya hak dan kedaulatan atas Hagia Sophia.

“Tanpa bermaksud menyampingkan keterkaitan historis umat agama lain terhadap bangunan tersebut, komitmen persatuan agama-agama dalam jiwa peradaban Hagia Sophia, dan statusnya sebagai warisan dunia yang dapat diakses bersama, keputusan Erdogan dengan segala kedaulatan Turki atas Hagia Sophia perlu dihargai,” tambah Muhajir.

Muhajir memandang jika perubahan Hagia Sophia menjadi masjid tak akan mencederai sejarah panjang umat agama lain yang pernah menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat ibadah. Sejarah umat agama lain atas Hagia Sophia yang melekat begitu kuat dalam ingatan umat manusia tak akan punah, sejauh umat manusia ada sebagai mahluk yang berkesadaran.

“Pun, Hagia Sophia pada akhirnya tetap menjadi warisan dunia yang dapat diakses bersama. Sebab Presiden Erdogan tetap berkomitmen agar Hagia Sophia tetap dapat diakses oleh siapapun ketika kelak telah difungsikan menjadi masjid,” ujarnya.

HMI MPO, lanjut Muhajir tak mempermasalahkan jika Hagia Sophia tetap menjadi sebagai museum, sebagaimana keinginan beberapa pihak. Dan ketika Hagia Sophia menjadi masjid, HMI MPO juga tetap mendukung. HMI MPO berharap agar seluruh pihak tidak alergi dengan masjid. “Ketika Hagia Sophia menjadi masjid, denyut nadi peradaban yang berdetak kencang dalam bangunan bersejarah itu tak akan hilang. Sebab masjid itu sendiri adalah pusat peradaban,” ujarnya.

Dalam tradisi Islam, kata Muhajir, masjid tak hanya digunakan sebagai tempat ibadah semata, namun juga sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan. Di masjid berlangsung dakwah, pengajaran agama, yang kesemuanya itu menjadi aktivitas yang menopang tegaknya peradaban Islam sampai saat ini.

“Dan tradisi tersebut sudah berlangsung sejak zaman Rasulullah Saw. Di mana waktu itu, masjid memiliki fungsi yang banyak, tak hanya sebagai bangunan ritual, namun juga pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan bahkan sebagai pusat pemerintahan,” ujarnya

Saat Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah dari Makkah ke Madina, hal pertama yang dilakukan adalah membangun masjid di Quba yang saat ini kita kenal sebagai Masjid Quba. Masjid inilah yang menjadi tonggak utama pembangunan peradaban Islam. Masjid memainkan peranan penting dalam aspek sosial dan kultural sehingga tatanan masyarakat Islam beserta peradabannya pelan demi pelan dibentuk melalui masjid sebagai fondasi utamanya.

“Ketika Turki memutuskan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi masjid, PB HMI MPO berharap seluruh pihak tak perlu resah. Kita justru berharap semoga Hagia Sophia dijadikan sebagai masjid yang multifungsi: tak hanya sebagai tempat ritual belaka, namun juga pusat pendidikan, kebudayaan, dan mengandung dimensi sosial-kemasyarakatan,” tandas Muhajir. (*)


BACA JUGA