Ketua Dewan Pendidikan Makassar, Rudianto Lallo.

Pembelajaran Daring Terus Menerus, Kualitas Pendidikan di Makassar Kian Turun

Minggu, 22 Agustus 2021 | 11:47 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM – Pembelajaran secara daring yang berlangsung selama pandemi Covid-19 telah menurunkan kualitas pendidikan. Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Pendidikan Makassar, Rudianto Lallo, Kamis (19/08/2021).

Ia mengatakan telah menggelar kuis cerdas cermat sebagai media penilaian. Disiarkan oleh salah satu stasiun tv milik pemerintah.

“Kami dewan pendidikam sudah menggelar lomba cerdas cermat yang disiarkan langsung TVRI, berdasarkan laporan penanggung jawab ada kemunduran dari sisi kualitas,” ujar Rudianto yang juga menjabat Ketua DPRD Makassar.

Kemudian dihadirkan sejumlah pelajar sebagai perwakilan sekolah. Hasilnya, banyak peserta yang kesulitan menjawab saat sesi tanya jawab.

“Banyak pertanyaan dari dewan juri yang dulu katanya bisa dijawab oleh peserta anak didik kita, sekarang ini susah dijawab. Berarti ini salah satu variabel bagaiman pendidikan kita hari ini,” jelasnya.

Padahal standar penyusunan belum berubah. Di mana seharusnya bisa untuk dijawab. “Kalau seperti itu berarti ada kemuduran,” sambungnya.

Rudianto menilai kondisi itu dipengaruhi kedisiplinan anak didik dalam mengikuti pembelajaran daring. Di mana mereka masih merasa liburan sekolah.

Selain itu, ikut mempengaruhi terbatasnya akses teknologi, keterbatasan kouta internet dan lainnya. “Itu anak-anak sekarang merasa masih libur panjang, ini kan sudah berlangsung 2 tahun.

Olehnya, Dewan Pendidikan meminta pemerintah segera menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Dengan catatan, penularan covid 19 sudah terkendali dan status pembatasan telah dicabut pemerintah.

“Kalau status PPKM telah dicabut dari level 4 ke 3, sudah bisa dimulai. Lebih cepat lebih baik, karena observasi kita ada penurunan kualitas pendidikan,” ungkapnya.

Rudianto menambahkan sistem pembelajaran online saat ini banyak dikeluhkan orang tua siswa. Sebab, diperlukan kouta internet untuk mengaksesnya.

“Kelihatan tentunya ada pembeda secara virtual dengan tatap muka langsung. Yang punya banyak kouta tidak masalah ikut, tapi bagaimana siswa yang tanda petik makan saja susah apalagi beli kouta,” tutupnya. (*)


BACA JUGA