Ilustrasi Teroris/INT

Awas, Kelompok Teroris Mudah Bekali Paham Radikal Terhadap Orang Seperti Ini

Selasa, 30 Maret 2021 | 19:08 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Kelompok teroris terus melancarkan aksinya. Pelbagai cara pun digunakan dalam merekrut anggota baru agar ada regenerasi.

Mantan Napi Teroris, yakni Mukhtar Daeng Lau pun angkat bicara. Dalam perekrutan, beber dia, kelompok teroris menyasar orang yang dianggap tidak memiliki pemahaman agama yang kuat.

pt-vale-indonesia

Ia mengecam aksi teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Dua pelaku diketahui berasal dari jaringan Jamaah Ansharud Daullah (JAD).

“Saya mengecam dan seharusnya tidak terjadi hal demikian. Makassar harusnya damai dan tentram karena kota ini bagaikan miniatur yang ada banyak agama, etnis dan budaya disini,” ujarnya, Selasa (30/03/2021).

Lebih jauh, ia mengatakan kelompok teroris mengincar orang yang dalam keadaan emosional. Misalnya, mempunyai banyak masalah dalam kehidupan.

“Kebetulan yang didapati orang yang tidak punya pengetahuan dan pemahaman yang mendalam terhadap agamanya. Sedikit gangguan ekonomi, sosial. Maka ini rentan direkrut sangat cepat itu salah satu diantaranya,” jelas Mukhtar.

Tak hanya itu. Begitu juga dengan orang yang memiliki karakter ingin memberontak dan rasa tidak puas terhadap pemerintah.

“Radikalisme tidak berdiri sendiri, sebelum menjadi teroris dia memang harus radikal dan ini tentu mudah tersusupi paham yang diinginkan para mentor mereka,” tambah Mukhtar.

Setelah menemukan orang yang tepat, tahapan selanjutnya dimulai. Dengan memberikan doktrin radikal atau seperti yang menjadi keinginan mentor.

Menurut Mukhtar, doktrin mudah diberikan jika orang yang bersangkutan memiliki kedekatan. Terlebih, memiliki jasa atau hutang balas budi.

“Mentor inilah yang mempunyai pengaruh apalagi ada kedekatan, misal pernah berjasa terhadapnya, jadi mudah mendapatkan rekrutmen terhadapnya,” ucapnya.

Aksi teror juga bisa terjadi sebagai bentuk balas dendam. Pasalnya, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri gencar menangkapi terduga teroris di awal tahun 2021.

“Kemarin itu ada kelompok mereka yang ditembakin dan ditangkap, sehingga dengan mudah pengaruh ini kalau begini tidak adil perlakuannya, itu juga salah satu memicu,” katanya.

Mukhtar membenarkan saat ini perekrutan teroris ada juga yang dilakukan melalui media sosial. “Ada juga yang terpengaruh di sosial media,” tutup Mukhtar yang kini dirangkul Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). 

Negara harus hadir untuk mencegah aksi terorisme. Caranya bisa dengan melakukan pendampingan, pembinaan dan pemberdayaan.(*)


BACA JUGA