(FOTO: Balla Lompoa dan istana tamalate di Gowa/Muhammad Muhaimin/GoSulsel.com)

Dari Tomanurung ke Raja Gowa Terakhir, Siapa yang Berhak Bergelar Sombayya?

Selasa, 13 September 2016 | 17:16 Wita - Editor: Irwan Idris -

Pelantikan Tomanurung sebagai raja diperkirakan terjadi pada abad XIV. Lontarak Makassar yang ditransliterasi oleh B.F Matthes ke dalam Makassaarche chrestomathie, Amsterdam 1883, menyebutkan bahwa Tomanurung digantikan oleh putranya bernama Tomassalangga Barayang.

Tidak banyak informasi tentang periode pemerintahan  Tomanurung. Barulah kira-kira menjelang pertengahan abad XIV, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, Tonatangka Lopi, sumber lokal kembali menerangkan tentang pembagian wilayah kerajaan Gowa terhadap dua orang putranya, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero’.

Batara Gowa melanjutkan kekuasaan di Gowa sebagai Raja Gowa VII, pengganti Tonatangka Lopi yang meninggal dunia. Sedang adiknya, Karaeng Loe ri Sero’, mendirikan kerajaan baru yang bernama Kerajaan Tallo. Dalam perjalanannya, kedua kerajaan lalu bersepakat membentuk kerajaan kembar bernama Kerajaan Gowa-Tallo, yang oleh sejarawan Belanda disebut  Zusterstaten, dua kerajaan bersaudara. Gowa-Tallo membagi kekuasaan dengan prinsip pemerintahan “Rua Karaeng na se’re ata” (Dua raja, tetapi satu hamba). Belakangan, Kerajaan Gowa-Tallo sering pula disebut sebagai Kerajaan Makassar.

Pelapisan Masyarakat Gowa

Pelapisan masyarakat atau stratifikasi sosial dianggap penting dalam mencari pandangan hidup, watak atau sifat-sifat mendasar dari suatu masyarakat, termasuk struktur politik. Pelapisan masyarakat Gowa dan Makassar telah diteliti oleh antropolog Belanda bernama Friedericy. Dalam penelitian itu, dia menggunakan sumber-sumber local, seperti Sureq Galigo.

Menurutnya, pelapisan sosial masyarakat di Gowa terdiri atas tiga golongan; Anak Karaeng, yaitu keturunan raja atau kaum bangsawan, Maradeka yaitu lapisan masyarakat kebanyakan atau rakyat umum, dan Ata atau Sahaya.

Lapisan Anak Karaeng adalah golongan yang menempati tingkat tertinggi dalam pelapisan masyarakat Makassar. Lapisan ini tediri atas empat golongan; Anak Tikno, yakni golongan bangsawan murni yang berasal dari keturunan Tomanurung. Anak Sipue yaitu keturunan campuran antara keturunan Tomanurung dengan orang biasa. Anak Cerak adalah golongan yang berasal dari seorang ayah berdarah Anak Tikno, sedang ibunya berasal dari golongan Ata. Terakhir adalah Anak Sala, yaitu golongan berdarah Anak Cerak dari pihak ayah, sedang ibunya berdarah Tosamarak atau Ata.

Lapisan kedua dalam masyarakat Makassar yaitu Tomaradeka. Lapisan ini terbagi atas dua golongan, yaitu: Tobajik atau orang yang memiliki hubungan dengan salah satu lapisan Anak Karaeng, dan Tosamarak ialah orang kebanyakan yang memiliki jumlah anggota sangat banyak dalam masyarakat.

Dari strata sosial masyarakat Makassar tersebut, menurut Mattulada dalam Latoa, diterangkan bahwa kemurnian keturunan pada lapisan tertentu dalam masyarakat Makassar sangat ketat dipertahankan, karena erat hubungannya dengan jabatan dalam birokrasi kerajaan, terutama pada posisi puncak kerajaan. “Seorang yang bisa dipilih menjadi Sombaya (raja) hanyalah dari putera yang berasal dari lapisan anak tikno,” ungkap Mattulada. Hal ini, mempunyai hubungan dengan kepercayaan dalam masyarakat bahwa seorang raja haruslah berasal dari keturunan Tomanurung.

Namun, dinamika sosial-politik yang terjadi di nusantara mengubah banyak hal dalam tatanan adat dan kebudayaan kerajaan-kerajaan nusatara, termasuk Kerajaan Gowa.

Setelah Raja Gowa ke-36, Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidid diangkat sebagai Bupati Gowa pertama pada tahun 1960, konstelasi Kerajaan Gowa berubah. Hingga kini, polemik dalam lingkungan keluarga Kerajaan Gowa belum juga reda.

Klaim kekuasaan di antara keturunan Raja Gowa lalu diwarnai dengan kehadiran Lembaga Adat Daerah (LAD), produk Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Gowa yang hendak mengatur berbagai hal menyangkut Kerajaan Gowa.

Lalu, siapa yang berhak menjadi pemimpin Kerajaan Gowa?(*)

Halaman:

BACA JUGA