FOTO: Suasana ritual pengambilan air suci di sumur tua Katangka/Sabtu, 10 Agustus 2019/Junaedi/GOSULSEL.COM

Kerajaan Gowa Gelar Ritual Pengmbilan Air Suci di Sumur Tua Katangka

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 19:46 Wita - Editor: Muhammad Fardi - Reporter: Junaid - Gosulsel.com

GOWA, GOSULSEL.COM – Setelah sempat tertunda beberapa tahun, kini Accerang Kalompoang kembali digelar oleh Kerajaan kabupaten Gowa. Salah satu ritual yang dilaksanakan yaitu pengambilan air di sumur tua katangka yang berada di Kelurahan Katangka Kecamatan Somba Opu, Sabtu ( 10/8/2019).

Sejarahwan dan Budayawan asal Kabupaten Gowa, Jufri Andi Tenri Bani Daeng Pile mengatakan bahwa pengambilan air di sumur tua atu sumur suci tersebut bagian dari rangkaian pelakasanaan Accera’ Kalompoang.

pt-vale-indonesia

“Salah satu rangkainnya adalah engambilan air dari sumur tua yang berada pada kawasan inti Kerajaan Gowa pada masa lalu. Karena menurut sejarah di situlah lahirnya Kerajaan Gowa sekitar abad ke 13 dengan hadirnya Karaeng Tumanurunfg Baine. Di kawasan ini terdapat beberapa objek yang dianggap sakral yaitu bungun lompoa atau sumur suci ini,” jelasnya.

Lanjutnya, rombongan atau yang bertugas mengambil air dari sumur tersebut adalah kerabat Kerajaaan Gowa dengan pakaian adat tradisional. Kemudian kerabat Kerajaan Gowa diikuti dengan kelompok-kelompok pengatar deanga  engunakan pakaian adat tradisional yang dibarengi dengan musik tradisional Makassar.

“Yang mengantar memang harus bagian dari kerabat keluarga raja itu sendiri bersama dengan rakyatnya. Ada kelompok-kelompok rakyatnya yang diikut sertakan dan ini tidak dikriteriakan dari suatu kriteria berapa umurnya tidak, yang penting ada unsur kerajaan masyarakat gowa sendiri,” lanjutnya.

Pengambilan air yang dimulai sekitar pukul 10 pagi atau saat kodisi matahari sudah mulai naik dimaksudkan supaya  akan mengalami kendisi kebaikan sebagai matahri naik. Pada saat pengambilan air juga dibacakan mantra sebelum dimasukkan ke dalam tempat yang telah disediakan berupa guci.

“Sesuai dengan ukuran sejenis guci satu guci dengan ritual khusus oleh orang- orang kerajaan yaitu orang yang dianggap memiliki pengetahuan khusus dan tentunya dengan nuansa Islami. Jadi ada memang sosok orang yang memang memiliki keilmuan untuk pelaksanaan acara pengambilan air tersebut,” jelasnya.

Usai pengambila air di sumur tua tersebut iring-iringan masuk ke titik mengitari tempat turunnya raja gowa pertama yaitu tumanurung bainea. Yaitu di sebuah batu yang disebut dengan batu Pallantikang yang sebelumnya disebut batu Tumanurung.

“kemuadian seteleh itu dibawa ke Balla Lompoa, sampai di Balla Lompoa air kemudian dimasukan ke dalam suatu kamar tempat benda pusaka disemayamkan dan selebihnya itu diambil untuk pensucian terhadap kerbau yang akan dipotong,” tutupnya.(*)


BACA JUGA