Idrus Marham menjelaskan strategi memenangkan calon yang diusung Golkar (Zulkifli/gocakrawala)

Pengangkatan Pelaksana Tugas DPP Golkar Dinilai Gegabah

Kamis, 23 November 2017 | 11:33 Wita - Editor: Irfan Wahab - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

Makassar, GoSulsel.com – Pasca ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perihal dugaan kasus korupsi e-KTP, proses penggantian kursi Ketua Umum DPP Partai Golkar, Setya Novanto masih terus memanas.

DPP Golkar yang melangsungkan pleno mengangkat pelaksana tugas (Plt), Idrus Marham untuk segera melangsungkan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Aswar Hasan mengatakan, hasil munaslub itu pasti akan terkait dengan kepentingan Pemilihan Presiden (Pilpres). Sehingga, kata Aswar, sebaiknya memang Munaslub itu tidak dilakukan saat ini dan terkesan terburu-buru. 

“Karena hasil munaslub itu terpatok dalam kaitannya dengan konstalasi pilpres, sehingga golkar jangan sampai terburu-buru munaslub,” ungkapnya.

Apalagi, berdasarkan surat edaran dari dewan pertimbangan partai golkar sekarang sudah mengangkat Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas (Plt). Dengan demikian kepentingan golkar memenangkan Nurdin Halid di Pilgub Sulsel tidak terganggu.

“Nah kalau munaslub itukan belum di prediksi, kalau munaslub itu ada ketidakpastian konstalasi golkar di Pilpres. Jadi memang golkar jangan terburu-buru munaslub yang memungkinkan terpilihnya ketum baru diluar kekuatan internal golkar. Karena itu bisa mengundang konflik baru di golkar,” jelas Aswar.

Menurut Aswar Hasan,  konfigurasi posisi sekarang sudah baik dan cukup aman. Dimana sekjend naik sebagai pelaksana tugas. “Dan sekjend merangkap sampai habis periodenya setnov kemudian melakukan munaslub, karena agenda munaslub itukan 2019,” tuturnya.

Sehingga nantinya golkar bisa berkonsolidasi, output munaslub itu bisa di gunakan untuk kepentingan pilpres. “Kalau sekarang munaslub bisa menimbulkan kegaduhan politik,” jelasnya lagi.

Saat ditanya terkait plus minus apabila digelar munaslub, Aswar menjelaskan, hal tersebut susah diprediksi kalau terjadi munaslub dalam waktu dekat.  

“Susah diprediksi kalau ada kepemimpinan baru golkar karena pasti ada kepentingan-kepentingan eksternal yang bermain. Dikhawatirkan itu golkar akan mengalami intervensi kekuatan politik eksternal kalau menggelar munaslub dalam waktu dekat. Supaya tidak terjadi intervensi secara eksternal, golkar secara internal harus mengkonsolidasi kan diri mempersiapkan diri untuk munaslub kedepan dan tidak dalam waktu minggu ini,” papar Aswar. (*)


BACA JUGA