Puasa Ramadan, Ajang Menahan Diri dan Tertib Politik

Rabu, 16 Mei 2018 | 01:06 Wita - Editor: Irwan Idris -

GOSULSEL.COM – Puasa Ramadhan sesungguhnya bulan dimana umat muslim diberikan waktu istimewa dari Tuhan Yang Maha Besar untuk merefleksikan diri dan menumbuhkan sisi spiritualnya.

Dalam bulan ini juga tidak hanya sekedar tidak makan dan minum dan menghindari hal-hal yang membatalkan puasa yang lain dari subuh hingga bedug maghrib. Namun lebih dari itu puasa bulan Ramadhan ternyata mengandung nilai-nilai yang luhur untuk kita dapat petik hikmahnya.

Nilai-nilai ini tentu saja tidak hanya berlaku bagi umat muslim saja, tapi nilai-nilai yang ada pada puasa di bulan Ramadhan ini juga sangat berkaitan dengan kehidupan antar sesama umat manusia di seluruh penghuni jagad raya ini.

Karena itu, puasa Ramadhan, pada dasarnya memberi pembelajaran untuk selalu melatih kesabaran, kejujuran hingga menahan diri dari berbagai hawa nafsu, aksi anarkis dan kekerasan atau terror lainnya.

Menyongsong tahun politik Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019, seharusnya kita yang menjalankan ibadah ini mempunyai kekuatan dan daya untuk belajar tertib politik dan mencegah berbagai upaya pembusukan politik (baca, Francis Fukuyama, Political Order and Political Decay, 2011).

Makna Menahan Diri

Untuk mengingatkan kembali makna berpuasa sebenarnya, dapat dilihat dari beberapa sisi antara lain; merupakan ajang untuk beribadah sebaiknya baiknya, siap menyambut malam seribu bulan, memperbanyak amal dan menjadikannya sebagai bulan Al-Quran. Sedangkan bagian yang terpenting dan tak terpisahkan dalam bulan suci ini adalah usaha kita ‘menahan diri’ dari segala emosi dan menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tercela.

Menahan diri dari segala emosi bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi di bulan Suci ini, dianjurkan untuk juga menahan godaan diri dari segala bentuk emosi amarah, nafsu, dan emosi yang berlebih, yang dapat menyia-nyiakan kegiatan berpuasa. Maka dari itu, muslim dianjurkan untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah, tadarusan, meminta maaf pada orang lain dan memberikan maaf pada sesama.

Sedangkan menahan diri untuk tidak mencela, memfitnah, bergosip, dan melakukan tindakan kampanye hitam, apalagi kekerasan – yang sesungguhnya tersebut diatas tidak ada yang baik, apalagi saat Ramadhan tiba. Karena, Nabi Muhammad shalallahu’alaihi Wassalam pernah bersabda, “Hindarilah oleh kalian perbuatan ghibah. Karena ghibah lebih besar dosanya daripada zina. Seseorang terkadang berzina kemudian bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan diterima taubatnya oleh Allah.

Sedang orang yang berbuat ghibah, dia tidak akan diampuni sampai orang yang dia ghibah-i memaafkannya”.(Ihya Ulumiddin, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali, jilid 4, hal 411). Untuk itu, menahan diri adalah jembatan yang baik menuju tertib politik dan menghindari politik busuk.

Pengendalian dalam Politik

Pentingnya pengendalian diri dan nafsu duniawi ini tidak hanya berlaku pada seseorang atau sejumlah orang tertentu saja dalam bulan puasa Ramadhan, sebab pasalnya pada seorang politisi atau para pelakub politik termasuk tim sukses dan simpatisan mereka juga membutuhkan hal ini. Memang sebelumnya juga sudah dijelaskan bahwa pengendalian diri dan nafsu dalam wujud puasa ini akan berguna bagi mereka dalam hidupnya secara umum.

Nah, dari sinilah bagi mereka para politisi atau segenap masyarakat dalam kelompok yang melakukan interaksi politik di dalam menjalankan ibadah puasa seharusnya bisa mengambil hikmah dari bulan suci Ramadhan ini. Sebuah hikmah yang berupa pengendalian diri dan nafsu dari bulan puasa Ramadhan ini yang akan sangat membantu mereka untuk bisa meraih sukses dalam berkompetisi secara sehat, fair dan penuh kedamaian.

Halaman:

BACA JUGA