Iptu Kasmawati

Kapolsek Parangloe Dorong Penjual Ballo Beralih Kembangkan Gula Merah

Jumat, 21 Februari 2020 | 09:38 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Rusli - GoCakrawala

GOWA, GOSULSEL.COM — Kecamatan Parangloe dikenal sebagai daerah penghasil gula aren di Kabupaten Gowa. Tapi itu dulu. Perlahan cap itu tenggelam, seiring meredupnya produksi gula merah. 

Kini potensi gula merah itu ingin dibangkitkan kembali. Adalah Kapolsek Parangloe, Iptu Kasmawati yang jadi inisiatornya. Polwan berpangkat dua balok di pundak itu punya hasrat mengembalikan kejayaan Parangloe sebagai kecamatan penghasil gula merah. 

pt-vale-indonesia

“Saya dapat banyak informasi bahwa Parangloe itu dulu merupakan penghasil gula merah terbesar di Gowa. Kejayaan ini mesti dikembalikan,” ujar Kasmawati, kepada Go Cakrawala di kantornya, Kamis (20/2/2020).

Alumni Sekolah Inspektur Polisi (SIP) angkatan 41 tahun 2012 itu pun bercerita tentang razia minuman keras yang gencar dia lakukan selama ini. Menurutnya, razia miras khususnya ballo tersebut tak sekadar sebagai bagian dari program harkamtibmas. Tetapi tujuan lain agar warga yang menjual ballo berhenti. Selanjutnya didorong beralih memproduksi gula merah. 

“Bahan dasar gula merah itu kan dari aren yang mereka jadikan ballo. Nah ini yang kita mau ubah mindsetnya. Bagaimana warga yang selama ini menjual ballo menghentikan kegiataannya.  Dan beralih memproduksi gula merah,” beber eks Kapolsek Manuju itu. 

Di samping narkoba dan senjata tajam, miras memang termasuk atensi utama bagi perwira kelahiran Limbung, 1 Juni 1976 itu. Sejak menjabat Kapolsek Parangloe, Januari 2020 lalu, tercatat ada sekitar 2 ribu liter ballo berhasil disitanya. 

“Ballo itu kita sita di enam penjual. Mereka kini sudah berhenti menjual ballo,” ungkapnya.

Mantan KBO Narkoba Polres Maros itu menerangkan, untuk menekan penjualan ballo, pihaknya menganggap tak efektif jika hanya penegakan hukum saja. Sebaliknya, mengedepankan pembinaan. Oknum warga yang tertangkap saat razia miras diberi pemahaman agar tidak mengulangi perbuatannya. 

Begitupun warga yang menjual ballo. Diberi pengarahan agar sebaiknya aren yang dijadikan ballo diproduksi saja menjadi gula merah. “Saya juga sudah koordinasi dengan sejumlah kepala desa. Seperti Desa Bontokassi bagaimana mendorong warganya yang jadi penjual ballo beralih menekuni usaha gula merah,” tandas Kasmawati.(*)


BACA JUGA