Seorang penumpang sedang berdiri di atas kapal kayu yang akan akan menganngkutnya ke pulau tujuan di Kodingareng, Rabu (21/11/2018)/Indra Abriyanto/Gosulsel.com

Masyarakat Kodingareng Minta ASP dan WALHI Tetap Tinggal di Pulau

Sabtu, 05 September 2020 | 22:12 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Beberapa hari yang lalu, puluhan pemuda berunjuk rasa di beberapa titik di Kota Makassar. Ialah di bawah Fly Over dan Gedung DPRD Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dalam aksi tersebut, Aliansi Gerakan Mahasiswa Pulau (GEMPA) menyampaikan tuntutannya dengan spanduk bertuliskan ‘Save Sangkarrang, Usir WALHI dari Pulau’. Menurut pengakuan mereka, ini merupakan suara masyarakat pulau.

Menanggapi hal tersebut, beberapa nelayan dan pemuda Pulau Kodingareng yang menjadi masyarakat dampingan Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP). Di mana WALHI Sulawesi Selatan termasuk di dalamnya, ikut bersuara terkait aksi yang dilakukan oleh aliansi GEMPA.

Nelayan Pulau Kodingareng, Sukri menuturkan bahwa aksi yang dilakukan oleh aliansi GEMPA tidak berdasarkan hasil musyawarah masyarakat. Ia meminta agar bersikap sendiri dan mengatasnamakan masyarakat.



“Yang kami tahu mahasiswa yang ada di pulau (ASP) datang kesini untuk membantu masyarakat mempertahankan tempat pemancingan kami,” katanya.

Perempuan Pulau Kodingareng yang turut aktif terlibat dalam menolak aktifitas tambang pasir laut, yakni Ica juga memberi penjelasan. Ia menjelaskan bahwa WALHI/ASP selama ini datang untuk membantu masyarakat.

“Jadi kalau bukan masyarakat pulau yang meminta tidak perlu meninggalkan pulau. Selain itu, demo mahasiswa (Aliansi GEMPA) bukan suara masyarakat pulau disini, kalau memang mahasiswa mau demo untuk usir WALHI mereka harusnya datang ke pulau,” jelas Ica.

Salah satu pemuda Pulau Kodingareng, Rustam menegaskan, aksi tersebut bukanlah suara pemuda dan bukan pula suara nelayan disini. Sebab selama ASP berada di sini, mereka membantu mempertahankan tempat nelayan mencari ikan.(*)


BACA JUGA