Humas IDI Kota Makassar, dr Wachyudi Muchsin

Viral di Sosial Media, Ini Klarifikasi IDI Makassar Soal Rapid Test Palsu

Jumat, 25 September 2020 | 13:43 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Beberapa hari yang lalu, Humas IDI Kota Makassar, dr Wachyudi Muchsin membuat pernyataan yang sontak menggegerkan jagat dunia maya. Bahkan, diposting oleh salah satu publik figur, yakni Deddy Corbuzier. 

Di mana ia menyatakan bahwa hasil tes rapid positif maupun negatif itu semuanya palsu dan alat itu bukan rekomendasi IDI. Pria yang akrab disapa Dokter Koboi ini pun mengklarifikasi pernyataan tersebut. Agar jelas dan terang maksud dan tujuan pernyataan itu.

Menurut Yudi, pernyataan saat itu memiliki pengertian multi tafsir.  Pemilihan diksi yang viral seolah-olah alat rapid yang “palsu” padahal isi penjelasan tidak begitu.

Sejatinya, kata dia, tujuannya untuk testing Covid-19 secara tepat atau sesuai standar ialah swab atau Polymerase Chain Reaction (PCR) bukan rapid test. Sebab, banyak kasus rapid reaktif, namun swab negatif. Atau rapid negatif hasil swab positif dan yang patut dipercaya adalah pemeriksaan swab.



“Yang viral itu hanya bahasa yang multi  tafsirkan. Rapid test negatif atau positif palsu hanya istilah yang artinya tidak akurat bukan alat rapid nya yang palsu,” ujar Dokter Koboi.

“Rapid test ialah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus,” sambung Yudi.

Lanjut, Yudi menjelaskan jika tes yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus Covid-19 sejauh ini hanyalah memakai pemeriksaan PCR. Pemeriksaan ini bisa mendeteksi langsung keberadaan virus, bukan melalui ada tidaknya antibodi terhadap virus ini. Tak ayal, apabila WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia juga sudah tidak menganjurkan negara untuk melakukan pemeriksaan melalui rapid.

“Rapid test itu sudah dilarang oleh WHO  dalam penggunaan alat rapid test ada atau tidak virus Covid-19 dalam tubuh manusia semua pakai swab PCR,” jelasnya.

“Saya secara pribadi dan profesi dokter mengajak masyarakat untuk paham rapid tes bukan takaran ukuran seseorang kena atau bebas Covid-19, tapi SWAB/PCR yang menjadi tolak ukur seseorang terpapar Covid-19 atau tidak,” lanjutnya.

Terakhir, ia menegaskan bahwa rapid test hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring. Bukan pemeriksaan untuk mendiagnosa infeksi virus Covid-19 dan untuk gold standar diagnosa Covid-19 adalah PCR yang tepat.(*)


BACA JUGA