Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Sulsel, Ir Adenan Rasyid, MT didampingi Subkor OP, Nasruddin menunjuk angka elevasi air di Bendungan Bili-Bili, Gowa, Selasa, 8 Desember 2020

Monitoring Posko Banjir, Kepala BBWSPJ Sulsel Pastikan Elevasi Bendungan Bili-Bili Aman

Selasa, 08 Desember 2020 | 19:03 Wita - Editor: Dilla Bahar - Reporter: Rusli - GoCakrawala

GOWA, GOSULSEL.COM— Musim penghujan jadi atensi Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWS-PJ) Sulsel Ditjen SDA Kementerian PUPR RI. Mereka secara aktif memonitoring posko banjir.

Kepala BBWS-PJ Sulsel, Ir Adenan Rasyid menuturkan, sejak dua hari terakhir pihaknya berkeliling memantau posko banjir yang ada.

Pemantauan ini, kata dia sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang sementara berlangsung. Apalagi mengingat belakangan ini curah hujan cukup tinggi.

“Dari kemarin kita monitoring posko-posko banjir, untuk mengecek kesiapan menghadapi musim hujan yang sudah mulai kita rasakan,” ujar Adenan kepada Go Cakrawala, Selasa, (8/12/2020)

Dalam monitoring posko banjir itu, Adenan didampingi sejumlah pejabat BBWSPJ. Antara lain Subkor OP, Nasrudin, Kepala Bidang OP, Rini Harun, PPK OP2, DR Ir H Muh Hasbi, dan PPK OP5, Agus.

Posko banjir yang dikunjungi tersebar di kota Makassar dan Gowa. Pada Hari Senin, 7 Desember, pemantauan dilakukan di Bendung Karet Sungai Jeneberang, Gowa, Trashrack Jongaya dan Waduk Tunggu Pampang, Makassar.

Kemudian hari ini, pemantauan posko banjir dilanjutkan ke Bendung Bissua, Takalar, Bendung Kampili, Stasiun Sungai Jenelata, dan Bendungan Bili-Bili, Kecamatan Parangloe, Gowa.

“Khusus untuk debit di Waduk Bili-Bili sekarang tingkat elevasi air berada di posisi +79,92. Masih jauh di bawah ambang normal +99,50,” sebut Adenan.

Dengan tingkat elevasi itu, lanjut dia, kondisi Waduk Bili-Bili relatif aman. Tak perlu dirisaukan. Apalagi, kata dia, di dalam waduk masih banyak tampungan kosong apabila terjadi hujan yang tinggi beberapa hari ke depan.

“Alhamdulillah sistem status sungai Jeneberang dan instrumen pemantaunya berjalan normal. Baik itu di bendungan Bili-Bili, Pos Jenelata, Bendung Bisua dan Bendung Kampili,” beber Adenan.

Pria berkepala plontos ini mengungkapkan, sebagai bentuk antisipasi menghadapi tingginya debit saat musim penghujan, pihaknya sejak awal melakukan pengurangan volume air di dalam waduk.

Dalam pengurangan volume air itu, Balai Pompengan telah berkoordinasi dengan pihak terkait di provinsi maupun kabupaten agar memajukan masa tanam.

“Hal ini agar pemanfaataan air bisa efektif. Tidak terbuang percuma,” terangnya.

Tidak cuma itu. Strategi lain yang ditempuh BBWSPJ dalam mengendalikan banjir dengan membersihkan kanal di Kota Makassar dan Gowa.

“Kita bersihkan kanal dari hal-hal yang bisa menghambat aliran air,” tandas eks Kepala BBWSPJ Gorontalo ini.

Dalam monitoring di posko banjir, Adenan juga menyempatkan diri mengecek aktivitas penambangan ilegal di area genangan Waduk Bili-Bili.

Terkait penambangan tersebut, pria asal Palembang, Sumatera Selatan ini mengaku sangat gerah. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Polda dan TNI agar menertibkan aktivitas penambangan yang sangat berbahaya bagi stabilitas waduk terbesar di Sulsel itu.

“Kemarin kita sudah bertemu dengan Polda dan Kasdam membahas penertiban tambang liar di genangan Waduk Bili-Bili,” pungkas Adenan. (*)


BACA JUGA