274 Sapi asal Surabaya saat diperiksa oleh petugas Karantina Pertanian Makassar, Minggu (31/01/2021)

Dukung Program Kementan, 274 Sapi dari Surabaya Bakal Dikirim ke Peternak Gowa

Senin, 01 Februari 2021 | 10:28 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Dalam rangka mendukung program 1000 desa sapi Kementerian Pertanian (Kementan) untuk Sulsel menjadi Lumbung Daging Nasional 2021, sapi ternak kemudian dikirim melalui KM Cemara Nusantara 1. Total 274 ekor sapi asal Surabaya yang ada ini telah berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar.

Petugas Karantina Pertanian Makassar pun mengawasi sapi-sapi yang diturunkan dari kapal. Kemudian diangkut menggunakan truk ke Instalasi Karantina Hewan (IKH). 

Di tempat tersebut, dilakukan pengamatan kesehatan selama 3 hari sebelum diterbitkan sertifikat pembebasan. Selanjutnya diserahkan ke Kelompok Tani Ternak yang berada Kabupaten Gowa.

Berdasarkan data Kementan, konsumsi daging sapi dan kerbau di Indonesia telah mencapai 696.956 ton per tahunnya. Sedangkan produksi sapi dalam negeri hanya sebesar 473.814 ton per tahun. 

Dengan adanya selisih 223.142 ton yang perlu disiapkan, maka pemerintah berupaya meningkatkan ketahanan pangan. Sekaligus kecukupan protein hewani di tengah pandemi Covid-19.

Disampaikan Kepala Karantina Pertanian Makassar, Andi Yusmanto, pemerintah terus berupaya meningkatkan kuantitas sapi ternak. Olehnya, program 1000 sapi pun hadir.

“Salah satu akselerasi dari pemerintah dalam peningkatan populasi sapi dan produksi daging sapi adalah melalui pengembangan 1.000 desa sapi,” kata Yusmanto.

Sementara agar program 1000 desa sapi berjalan dengan baik, Koordinator Karantina Hewan, Sri Utami mengatakan bahwa pengembangan sapi menjadi hal terpenting. Pihaknya pun melakukan sinergi bersama para peternak.

“1.000 desa sapi ini sendiri adalah pengembangan sapi indukan dan sapi bakalan dengan berbasis korporasi petani atau peternak. Sulsel sendiri termasuk salah satu pilot project program ini bersama 5 provinsi lainnya,” jelasnya.

Melalui program ini diharapkan pengembangan usaha sapi yang selama ini sebagai usaha subsistem akan bertransformasi menjadi berorientasi bisnis. Dan ini sebagai kreator peningkatan kesejahteraan dan penopang perekonomian daerah kedepannya. Serta mampu meningkatkan produksi sapi bukan lagi tradisional melainkan korporasi.(*)


BACA JUGA