Menemukan Oase Pengetahuan di Toko Buku Intuisi

Rabu, 31 Mei 2017 | 02:04 Wita - Editor: Irwan Idris - Reporter: Harlin - Go Cakrawala

MAKASSAR, GOSULSEL.COM –  “Saya berharap, apa yang saya lakukan bisa turut berpartisipasi meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di Kota Makassar.”

Kalimat itu melantun pelan namun mengandung hentakan optimisme yang begitu dahsyat dari seorang anak muda yang hidup dengan keyakinan, bahwa pembangunan nalar manusia selaiknya diprioritaskan dari program pembangunan infrastruktur fisik sebuah kota.

pt-vale-indonesia

Pada beberapa aspek, spirit literasi di Kota Makassar memang masih tertinggal dari kota-kota besar di pulau Jawa. Hal itu bisa terlihat dari kurangnya keseriusan pemerintah bersama masyarakat Kota Makassar menciptakan ruang-ruang yang mendukung tumbuh suburnya semangat membaca. Di Jogjakarta, misalnya, kita bisa menjumpai denyut kencang transaksi buku berbagai jenis dengan harga terjangkau di Shopping Center. Atau tengoklah riuhnya pelapak buku di lantai basement Blok M Plaza di Jakarta Selatan, juga ramainya para pemburu buku di Pasar Palasari, Bandung. “Pasar-pasar” buku demikian tidak akan kita jumpai di Kota Makassar.

Fakta itu lalu menggerakkan Ikrimah, mantan aktivis mahasiswa -yang hingga kelar kuliah masih layak menyandang gelar aktivis- untuk membuka toko buku. Sudah dua tahun toko buku miliknya ia kelola dengan ketekunan dan keyakinan bahwa buku adalah tiang layar utama guna menggerakkan masyarakat ke samudera pengetahuan.

Toko Buku Intuisi milik Ikrimah itu bagai oase di tengah kurangnya suplai buku berkualitas dengan harga yang bersahabat. Maka tak heran, meski letak Toko Buku Intuisi berada di kedalaman lorong 4 Jalan Pongtiku, tak sedikit mahasiswa yang datang setiap harinya. Mereka hadir untuk mencari tambahan suplemen ilmu dari jejeran rapi buku-buku di rak kayu Toko Buku Intuisi.

Buku-buku yang dijual Toko Buku Intuisi saat ini memang lebih dominan buku bertema pemikiran kritis, dan juga buku-buku sastra. Toko Buku Intuisi ini jarang menyediakan buku-buku panduan praktis. Kata Ikrimah, buku-buku wacana kritis sangat berguna untuk membentuk kesadaran dan pola pikir para pembacanya.

“Saya lebih banyak menjual buku-buku sosial kritis, sastra dan filsafat, buku-buku itu lebih laris ketimbang buku panduan praktis,” ungkap Ikrimah saat ditemui Gosulsel.com, Selasa (30/5/2017).

Ikrimah berkisah tentang pengalamannya yang begitu sulit menemukan buku bertema wacana sosial saat dirinya duduk di bangku kuliah. Karenanya, saat itu ia mesti membeli jauh di pulau Jawa.

“Waktu kuliah saya sering berbelanja buku secara online, bahkan biar sudah selesai. Setelah mendapatkan jaringan ke penerbit, saya pun terpikir untuk memudahkan mahasiswa dan masyarakat di Makassar guna mendapatkan buku,” terangnya.

Toko buku intuisi di jalan Pongtiku, Makassar/Selasa, 30 Mei 2017/Harlin/Gosulsel.com

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar itu kembali menegaskan, bahwa segemilang apapun perencanaan pembangunan Kota Makassar, akan sulit terwujud bila masyarakat tidak memiliki pola pikir untuk maju.

“Saya percaya kebijakan maupun program yang membangun dari pemerintah, tidak akan efektif jika masyarakatnya tidak siap untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Maka buku-buku wacana seperti ini menjadi sangat penting untuk dikonsumsi masyarakat. Pembangunan infrastruktur takkan berarti apa-apa tanpa pembangunan manusia,” kuncinya(*)