Dicky Chandra, Seniman asal Makassar

Dicky Tjandra Menuju Pameran Besar Seni Rupa Indonesia V

Kamis, 10 Agustus 2017 | 03:52 Wita - Editor: adyn - Reporter: Irwan AR - Go Cakrawala

Makassar, Gosulsel.com – Masih pagi sekali, kala itu presiden masih dijabat Susila Bambang Yudoyono (SBY) ia ditelpon oleh orang kementerian, yang menyampaikan bahwa namanya masuk salah seorang yang akan diusulkan menjadi Direktur Galeri Nasional, karena ngantuk dan merasa itu hanya candaan teman-temannya yang kadang usil, Dicky Tjandra dengan spontan mengiyakan saja. Tak dinyana beberapa hari kemudian ia pun diminta segera ke Jakarta, namanya dipilih.

Perupa kelahiran Makassar, 28 Agustus 1956 yang bernama lengkap DR Dicky Tjandra, MSn ini punya penampilan khas dengan rambut sebahu dan memutih. Ia masih berstatus dosen tetap di Fakultas Seni dan Desain, walaupun aktivitasnya saat ini bolak-balik antara kota Makassar dan Jogyakarta. 

pt-vale-indonesia

Ia, yang punya darah dari Bone ini, baru saja tiba di kota Makassar, “bagaimanapun kota Makassar tidak bisa dilupakan, ini kampung halaman tempat saya lahir,” ujarnya saat baru saja tiba di benteng Fort Rotterdam, tempat penulis janjian wawancara, Siang Senin 7 Agustus 2017. Sesekali ia mengenang tempat berkumpulnya seniman makassar di Fort Rotterdam itu, Dicky termasuk seniman generasi Rahman Arge dan pendiri-pendiri Dewan Kesenian Makassar.

Ia mengaku lebih punya ruang berkarya yang lebih baik di Yogyakarta ketimbang di kota Makassar, “Sekarang ini sastra dan teater lebih tumbuh baik. Tapi seni rupa justru tidak ada perkembangan,” sesalnya mengomentari kondisi seni rupa.

Kedatangan kembali mantan direktur Galeri Nasional ini di kota Makassar selain mengurus urusan kepindahannya di Solo, ia juga tengah menunggu untuk berangkat di event Pameran Besar Seni Rupa Indonesia (PBSRI) ke 5 yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian, di Provinsi Maluku pada 12-16 September 2017 mendatang.

Mantan Kepala Sub Direktorat New Media Art di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan kala itu, juga mengkritis perkembangan seni rupa nasional yang banyak menggiring seniman untuk menciptakan sebagai suatu pesanan yang disenangi ‘pasar’, akhirnya mememngaruhi oreitasi berkarya perupa.

“Kecenderungan perupa selalu memulai dari teks, bukan berasal dari pikiran yang diwujudkan sebagai teks (istilah semiotika semua unsur yang tampak sebagai simbol) teks itu saya bilang akibat saja, yang kita harus lakukan mengggali dari pikiran saja. Kecenderungan yang dilakukan kurator seni rupa di Indonesia justru mencari teks-teks mana yang laku di pasar, tidak menggali pikiran,” gusarnya, lalu ia memberi solusi bahwa perupa seharusnya berorientasi pada konteks yang melahirkan teks-teks tersebut.

Sederhananya, Dicky ingin orietasi perupa dalam berkarya adalah pada cara berpikir yang melahirkan pikiran bukan pada pikiran tersebut.

Seniman yang sempat meraih Honorary Certificate dari “China Changchun International Sclupture Conference” dan juara dua Olympiade Seni Rupa di China ini memang konses dengan patung. Sejak meniti  pendidikan S1 di kampus ISI Yogyakarta.

Ia sudah mengantarkan banyak karyanya dalam forum-forum internasional, sebuah patungnya menjadi salah satu koleksi Taman Patung Dunia Chang-chun China, sebuah karya patungnya berjudul “Pohon Kehidupan”

Dari ratusan karya yang ia hasilkan, selalu memasukkan elemen tubuh manusia. Seperti karya patung bertema lingkungan, berjudl “Diujung Jari” dan sebuah patung mirip kepala budha yang berambut jari-jari dan pernah di pamerkan saat Makassar Bienalle setahun silam, memaka elemen manusia, “ia sangat suka sama elemen tubuh manusia terutama jari, tangan, kepala dan telinga, saya membuat elemen manusia subyek yang punya predikat, misalnya tangan yang menggengam pisau itu bisa ditafsir sebagai pembunuh misalnya,” urainya dengan nada bicara pelan.

Untuk PBSRI sendiri, Dicky akan membawa karya yang di pamerkannya di China berjudul “Ying Yang” patung yang berbahan fiberglass itu berbentuk tangan atas yang mengangkat bawah dan dibedakan tangan putih dan tangan hitam, ” karyaku didapat dari simbol Ying Yang ini secara langsung saya artikulasi kan pada manusia yang selalu diperhadapkan pada persoalan dualisme yang saling bertentangan, benar dan salah, saya melihat kebenaran yang kita pilih itu tidak lepas dari campur tangan Tuhan didalamnya,” jelas Dicky atas karya Ying Yang tersebut.

Sebelum beranjak pergi, ia berharap Support pemerintah atas dunia seni rupa lebih besar lagi, juga wacana perupa di Makassar berkembang, salah satunya adalah berani berkompetisi keluar daerah bahkan ke luar negeri. “Pagelaran dan wacana seni rupa di Makassar nyaris sepi, di Yogya setiap hari orang bingung harus menghadiri pameran mana, pemerintah daerah Sulsel dan kota Makassar harus lebih agresiflah mendorongnya, jangan cuma pejabat agresif di lukis wajahnya,” tutup Dicky.


BACA JUGA