IYL: Sekolah di Belanda Tak Ada Istilah Tinggal Kelas

Kamis, 05 Oktober 2017 | 09:34 Wita - Editor: Irfan Wahab - Reporter: Irfan Wahab - GoSulsel.com

Belanda, GoSulsel.com – Hasil penelitian Ichsan Yasin Limpo (IYL) di beberapa negara sebelumnya, dianggap lebih dari cukup untuk mulai menyusun disertasi meski tak lagi melanjutkan di negara lain.

Tapi bukan Punggawa namanya, jika tak serius mendalami setiap usaha yang dilakukannya. Sebab baginya, penelitian yang dilakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan gelar doktor. Tapi lebih dari itu, ingin mengetahui lebih banyak mengenai perbandingan penerapan pendidikan dasar.

pt-vale-indonesia

Itu sebabnya, selama tiba di Amsterdam, Belanda, Rabu (04/10/17) waktu setempat, pelopor pendidikan gratis di Indonesia ini, langsung mengunjungi salah satu sekolah setingkat SD, serta pusat Dutch Education System atau setara dengan Dinas Pendidikan di Indonesia. Tujuannya mendengar sekaligus menggali kebijakan pemerintah tentang penerapan pendidikan dasar di negara tersebut.

Di dampingi beberapa guru besar di bidang pendidikan asal Indonesia, Ichsan yang di Pilgub Sulsel maju berpasangan dengan Andi Mudzakkar, mendengar penjelasan dari pejabat di Dutch Education System tentang pendidikan dasar, baik untuk tingkat SD maupun se-tingkat SMP dan SMA, di salah satu ruangan di kantor tersebut.

Menurut Ichsan, dari penjelasan pejabat dinas pendidikan setempat, ia mendapatkan beberapa perbandingan. Seperti tentang sistemnya, politik hukum pendidikan, kebijakan pemerintah terhadap sekolah, kurikulum yang diterapkan, tingkatan pendidikan, maupun dalam hal pengelolaan sekolah, serta rekruitmen guru.

“Sistem pendidikan di Belanda itu mirip dengan yang dilakukan di Gowa (Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan). Di sekolah-sekolah di Belanda, tak ada istilah tinggal kelas. Ujian yang dilakukan, bukan untuk menentukan lulus atau tidak lulus. Tapi untuk mengetahui potensi kelanjutan siswa,” papar Ichsan, melalui laporan yang dikirim sesuai rilis yang diterima, Kamis (5/10/17).

IYL yang sebelumnya dinobatkan oleh lembaga kemanusiaan PBB sebagai salah satu tokoh peduli pengungsi di Indonesia, menambahkan, ujian yang dilakukan di setiap sekolah di Belanda, hasilnya dijadikan dasar kepada siswa untuk melanjutkan, apakah ke universitas atau kejuruan.

Tak hanya itu, IYL juga mendapatkan penjelasan mengenai biaya pendidikan yang semuanya ditanggung oleh pemerintah. Sehingga siswa dan guru lebih fokus pada proses belajar-mengajar tanpa memikirkan, atau terbebani lagi dengan pungutan-pungutan sekolah. “Biaya pendidikan itu supporting full pemerintah,” jelas Ichsan.

Berdasarkan laporan, IYL diterima oleh Senior Beledsadviseur, Miriam Appelman. Selama sekitar dua jam, Ichsan yang di masa kepemimpinannya di Gowa menerapkan Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB), sangat antusias bertanya usai Miriam memaparkan secara umum gambaran sistem pendidikan yang diterapkan di salah satu negara Eropa tersebut.

Selain di pusat pendidikan Belanda, IYL yang sengaja mengikutkan beberapa pakar pendidikan asal Indonesia untuk bersama mendalami penerapan pendidikan dasar di Belanda, juga direncanakan melakukan penelitian di sekolah se-tingkat SMP dan SMA, sebelum bertolak ke Finlandia untuk tujuan yang sama. (*)


BACA JUGA