Ilustrasi

Pemilu 2019, Peluang Penyelenggara Dongkrak Partisipasi Pemilih

Senin, 14 Januari 2019 | 12:42 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Muhammad Fardi - GoSulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) menargetkan 77,5 persen partisipasi pemilih pada Pemilu 17 April 2019 mendatang. Meski terbilang tinggi, tapi target ini dinilai rasional.

Pemilu 2019, dimana pemilihan calon presiden (Pilpres) dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan calon legislatif (Pileg) dinilai menjadi peluang penyelenggara Pemilu untuk mendongkrak partisipasi pemilih.

Manager strategi Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy yang dimintai keterangan soal angka pemilih golongan putih (Golput) dari periode ke periode mengatakan, sejak Pemilu 2004 hingga 2014, mengalami ketidak tetapan atau fluktuatif angka pemilih Golput.

“Fenomena golput sejak Pemilu 2004 hingga 2014 lalu terlihat mengalami fluktuatif. Bahkan hasil Pemilu legislatif dan Pilpres tahun 2014 hasilnya berbeda,” kata Nursandi, Senin (14/1/2019).



Dia tidak menampik, bahwa Pemilu serentak antara Pileg dan Pilpres menjadi peluang KPU meningkatkan partisipasi pemilih. Sebab, selain penyelenggara dan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden, banyaknya calon anggota legislatif (caleg) juga akan terlibat menggiring pemilih ke Tempat Pemingutan Suara.

“Sistem Pemilu kita hari ini yang dilakukan serentak harusnya menjadi peluang bagi penyelenggara Pemilu membuat partisipasi publik menjadi meningkat dan menekan angka golput. Angka partisipasi publik bisa mencapai di kisaran 75%,” kata Sandi.

Untuk menekan angka golput, dia menyarankan agar penyelenggara, peserta Pemilu dan masyarakat mesti bersinergi untuk mewujudkannya. Sebab, semakin banyak pemilih yang berpartisipasi, maka legitimasi pemilu kita makin kuat.

Meski begitu, dia menuturkan bahwa perilaku Golput memang sulit dihilangkan, namun sangat memungkinkan untuk dikurangi. Ada beberapa alasan perilaku Golput disebutkan Nursandi.

“Angka golput memang tak bisa kita hilangkan, hanya bisa dikurangi. Golput terjadi diantaranya karena alasan ideologi, pemilih biasanya kecewa dan tak puas pada pilihan yang ada. Bisa juga karena alasan teknis karena tak mendapatkan undangan dan non teknis karena ke luar kota,” ujarnya.

Halaman:

BACA JUGA