Ilustrasi Pasien Terjangkit Virus Corona (Sumber: Internet)

Akhir Mei, Kasus Corona di Sulsel Capai 80 Ribu Jika Tak Ada Intervensi

Minggu, 12 April 2020 | 13:33 Wita - Editor: Andi Nita Purnama - Reporter: Agung Eka - Gosulsel.com

MAKASSAR, GOSULSEL.COM — Para peneliti yang tergabung dalam Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) memprediksi kasus Corona di Sulsel akan mencapai 80 ribu kasus di akhir bulan Mei. Prediksi jumlah tersebut berpotensi terjadi jika tidak ada intervensi dari pemerintah. 

Ketua Tim Peneliti FKM Unhas, Ansariadi membeberkan, jika dalam beberapa minggu ke depan penambahan kasus bakal naik secara signifikan. Hal tersebut, kata dia, disebabkan penyebaran Corona yang semakin meluas di daerah episentrum seperti Kota Makassar.

“Kalau berdasarkan grafik, sekitar 80 ribu kasus. Dalam beberapa minggu kedepan kita akan mengalami pertambahan kasus yang cukup banyak karena peningkatan kasusnya bersifat exponesial, bukan liner. Ini yang harus kita perhatikan,” katanya saat dihubungi, Minggu (12/4/2020).

Analisa ini sendiri menggunakan pemodelan matematika, yakni model Richard’s Curve. Dimana perumusan dari model logistik juga digunakan pada kajian ini untuk mengaproksimasi data kasus Covid-19 di Indonesia oleh peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning.



Upaya Intervensi yang jelas dan tepat pun segera dilakukan. Kata Ansariadi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, mesti paham cara memutus penyebaran Corona yang efektif jika tidak ingin kasus ini membludak hingga puluhan ribu kasus.

“Data sekarang menunjukkan bahwa Makassar menjadi episentrum di Sulsel. Penyebaran penyakit sangat dipengaruhi oleh pergerakan orang yang sudah diidentifikasi positif, dan kesigaapan pemerintah daerahnya melakukan pemutusan mata rantai penularan jika ada kasus di daerahnya,” tambahnya.

Pihaknya pun menyarankan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Makassar sebagai daerah episentrum pandemi Corona di Sulsel. Menurutnya, pemerintah segera cepat memutuskan untuk memberlakukan kebijakan ini.

“Kalau di Makassar dilakukan PSBB memang sudah harus dipertimbangkan ini secepatnya, tentunya harus dibarengi dengan kesiapan pemerintah,” ujar Dosen Epidemiologi FKM Unhas ini.(*)


BACA JUGA