#

Tebang Bambu Sendiri dan Gunakan Paku Bekas, Cerita Menginspirasi IRT Pasang APK Kacamatayyamo

Jumat, 03 Juli 2020 | 10:41 Wita - Editor: Muhammad Fardi -

BULUKUMBA, GOSULSEL.COM  – Sore itu, minggu 28 Juni 2020. Matahari sedang tidak bersinar terik. Sebahagian cahayanya masih tersembunyi di balik awan hitam pekat langit Bulukumpa. Daerah bagian utara Kota Bulukumba itu memang kerap mendung hingga hujan deras. 

Hari itu, kisah haru bahagia tersaji di ruang tamu. Tak ada kursi sebagai tempat untuk merebahkan badan. Hanya lantai dan karpet alas untuk ‘Tudang Sipulung’ dan saling bercengkerama. 

Air mata perempuan paruh baya menetes di pipi meronanya. Wanita itu kerap disapa Mia – Nama lengkapnya Hardiani-. Ibu rumah tangga asal Lempangan Kecamatan Bulukumpa. 

Mia yang mencoba membuka suara lembutnya. Berbicara dengan seorang pria berkacamata, tepat di depannya. Namanya Tomya Satria Yulianto. Di Butta Panrita Lopi, pria itu tak asing lagi. 



Mia pasti terbata-bata. Bukan karena takut, melainkan karena banyak kata bahagia yang tak mampu ia sembunyikan, terlebih di depannya ada sosok Tomy Satria. Hingga karena membuncah, lalu pecah jadi air mata. 

Kepada Tomy, Mia mulai menceritakan kisahnya yang berjuang menegakan baliho berukuran 7 meter persegi. Baliho itu jelas tergambar dua sosok pemimpin masa depan. Tomy Satria Yulianto dan Andi Makkasau. Keduanya pasangan calon bupati dan wakil bupati yang berslogan, Kacamatayyamo. Baliho tersebut juga didapat dari salah seorang kerbatnya, Hasma Ikbal. 

Mia mengela nafas, lalu bercerita kisah inspirasinya yang rela dengan jerih payah menebang bambu di tengah tebing tidak jauh dari rumahnya seorang diri. Sebagai perempuan, tentulah bukan menjadi pekerjaan semestinya, namun karena ada cinta yang terbawa, berat pun terasa ringan. 

Bambu berukuran panjang itu, tiada lain sebagai rangka untuk memasang alat peraga kampanye dukungannya di Pilkada Bulukumba, yakni pasangan Tomy Satria Yulianto-Andi Makkasau. 

“Iye kupasangan sendiri. Macenning metto atikku mannia pasangngi,” kata Hardiani dalam dialek bugis, Kamis (2/7/2020) yang artinya “Iya saya pasang sendiri, saya memiliki ketulusan hati sehingga sudah sejak awal berniat untuk memasang sendiri”

Bukan tanpa tantangan kala bambu itu ditebang. Satu batang bambu harus tersangkut di ranting bambu lainnya. Butuh kekuatan ekstra untuk menariknya hinggah terjatuh ke tanah. 

“Tersangkut satu, jadi saya tunggu suami saya sampai pulang dari sawah karena biasa lewat di sini. Jadi suami saya yang tarik, lalu saya bawa pulang, suami saya satu batang dan saya bawa satu batang sampai di rumah,” katanya dengan dialek bugis.

FOTO: Hardiani sekeluarga foto bersama Tomy Satria Yulianto/Ist

Untuk pulang, ia melawati pematang sawah, Mia dan sang suami yang datang membantu, memikul bambu sampai ke halaman rumah. Bahagia rasanya, karena satu pekerjaan telah usai. Selanjutnya, Mia masih harus berpikir keras. 1 lembar baliho berukuran 4×3 Meter itu harus berdiri tegak. Artinya, rangka baliho harus kokoh agar tak tumbang terhempas angin. 

Tantangan kembali menemui wanita berkulit sawo matang itu. Paku yang menjadi benda utama sebagai pengerat, ternyata telah habis digunakan untuk kebutuhan lain. Hanya, itu bukanlah penghalang. Ia pun tak patah semangat dan tak kehilangan akal. Paku bekas yang dicabut dari papan dan balok kayu bekas menjadi modalnya. Paku yang sudah bengkok itu diluruskan dengan alat seadanya.

“Ko ennagaga (paku) baru, dipake toasi,” ungkapnya dalam bahasa Indonesia berarti “kalau tidak ada paku yang baru, paku bekas tetap bisa dipake,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca dan senyum haru. 

Saat sementara memasang spanduk itu ke dalam rangka bambu, Hasma Ikbal sempat berkunjung. Hasma menyaksikan Hardianti memukul-mukul paku yang sudah bengkok menjadi lurus. Dan hingga akhirnya, baliho berdiri tegak dengan banyak bambu sebagai penyangga. 

“Saya liat itu paku-paku bekas dia pukul-pukul. Saya sempat bercanda, apakah tidak ada sekali itu paku, tapi dia tetap pasang sampai berdiri itu baliho,” ungkap Hasma.

Kata Hasma, ada satu alasan mendasar sehingga memiliki keteguhan hati dan niat tulus membantu kandidat pasangan bertagline Kacamatayyamo. Dahulu kala, seorang pria bernama Puang Sangkala sangat berjasa pada kehidupan Mia dan kerabatnya. Ia menilai kisah itu yang membekas hingga ke dirinya. Pria yang juga tokoh masyarakat Bulukumpa itu adalah bapak dari Tomy Satria Yulianto. 

“Pappaseng tau matoa, dena nahedding sisalai,” ungkapnya yang berarti “Pesan orang tua, tak boleh dipisahkan,” katanya.

Banyak doa yang dipanjatkan hari itu. Salah satunya datang dari saudara Hardiani bernama Hardiati. Katanya, dengan penuh keyakinan ia mendoakan wakil bupati aktif itu bisa dipermudah segala perjalanannya.

“Insya Allah ndi’, engkai di idi monro adecengenge,” kata dia dengan dialek bugis yang berarti “Insya Allah dek, segala kebaikan ada sama diri anda,” katanya.

Ia pun menegaskan, keteguhan hatinya untuk setia dan senantiasa memberikan dukungan ke pasangan Kacamatayyamo. Segala bentuk kemampuan akan dilakukan untuk mendukung pada Pilkada Desember 2020 mendatang.

“Dena kuitai elonna Puang Allah Taalah, tapi napattabalepi puang Allah Taalah na taballe to’ atikku,” ungkapnya dengan arti “Saya tidak mengetahui keinginan Allah SWT pada diri saya, tapi yang bisa saya pastikan, nanti bisa goyah hati dan beralih pilihan saya jika itu adalah keinginan Allah SWT yang merubahnya,” urainya. 

Cerita haru itu disimak seksama oleh Tomy Satria. Ia pun kagum dengan perjuangan mia alias hardiani. Kehadirannya dikediaman hardiani sebagai ungkapam terima kasih atas perjuangan itu. 

Terlebih di rumah semi permanen tersebut, sedang berkumpul saudara-saudara Mia, menanti kedatangan Sosok Tomy Satria. 

“Terima kasih, saya merasa terharu dan menaruh hormat. Insya Allah kita doakan ka, kita bantuka,” ungkap Tomy.(*)


BACA JUGA