Sari Laut Mbak Amel yang juga berdiri di jalan yang sama dengan Sari Laut Mbak Anggi. (Foto: Isnaniah Nurdin)

Menepis Stigma di Sari Laut Mbak Amel

Senin, 19 Oktober 2015 | 14:31 Wita - Editor: Nilam Indahsari - Reporter: Citizen Reporter

Halaman 1

Makassar, GoSulsel.com – Setahun setelah Sari Laut Mbak Anggi pindah kontrakan di tahun 2011 dari tempat usahanya di Jalan Bulukunyi, berdiri sebuah warung Sari Laut baru dengan jam melayani yang sama. Amil Shadiq yang berdarah Makassar dan pemilik halaman rumah yang dikontrak Ari Sukarna, adalah perilis usaha itu. Ia pun mengambil nama anaknya yaitu Amelia Utami, lalu jadilah Sari Laut Mbak Amel.

Amil Shadiq juga memilih untuk mempercayakan usaha kuliner yang dibangunnya kepada putera-puterinya.

pt-vale-indonesia

“Usaha ini sekarang lebih banyak dikelola oleh saya bersama kakak. Bapak tinggal mengawasi saja,” beber Amel, pemilik usaha Sari Laut Mbak Amel, Rabu (17/06).

Dalam menjalankan usaha ini, Amel berusaha menepis stigma bahwa Sari Laut yang berada di pinggir jalan identik dengan menu yang tak sehat ditambah tempat usaha yang jorok. Ia jadi memperhatikan kualitas bahan makanan dan menjaga kebersihan tempat usahanya. Sari Laut Mbak Amel yang didirikan pada 11 Oktober 2012 oleh ayahnya, Amil Shadiq adalah sebuah tantangan untuk membantah stigma itu.

“Kami selalu memperhatikan kualitas bahan makanan yang kami olah, termasuk hanya menggunakan minyak goreng pabrikan dan sekali pakai, serta menjaga kebersihan tempat usaha. Kami ingin menyajikan kuliner pinggir jalan yang sehat, terjangkau, dan nyaman,” tukas Amel.

Halaman 2

Awal membuka usaha itu, hanya ada menu nasi putih dan ayam goreng. Belakangan jenis kuliner yang disajikan semakin variatif, nasi uduk, udang, ikan laut, tahu, tempe, sup kacang merah, cah kangkung, sayur asam, dan beragam jus buah.

Kenyamanan bagi pelanggan juga jadi perhatian Amel. Itulah sebabnya, banyak dilakukan penyegaran di sana-sini, termasuk memperbarui warna cat dinding setiap 2 bulan sekali dan mengganti alat makan seperti piring setiap empat bulan sekali. Amel menyiapkan budget khusus untuk idenya itu. Ia mengaku tidak rugi, hanya mengurangi sedikit keuntungan yang ada.

Satu tahun lebih menjalankan bisnis keluarganya, Amel merasa menemukan pengalaman berharga dalam hidupnya. Ia terlatih mengelola bisnis keluarga termasuk mengelola sumber daya yang dimiliki, dalam hal ini pegawai yang kini berjumlah 23 orang dan bekerja dengan sistem shift.

Dikomplain oleh pelanggan juga pernah dirasakan oleh mahasiswa semester 8 Teknik Industri Unhas itu, utamanya pada jam sibuk pukul 9 malam hingga pukul 11 malam. Pada waktu itu, kursi akan terisi penuh dan koki akan sangat sibuk menyiapkan pesanan pelanggan. Di saat itulah terkadang muncul komplain karena merasa terlalu lama menunggu pesanan. Amel menyiasati situasi itu dengan menurunkan pelayan yang lebih banyak.

Tahun-tahun awal membuka usaha itu, adalah tahun yang penuh perjuangan dalam ingatan Amel. Pernah sekali waktu, ia harus berada di dapur seharian penuh untuk menyiapkan pesanan pelanggan.

Halaman 3

“Waktu itu belum ada koki. Jadi saya turun tangan langsung masak di dapur,” kenangnya.

Kini usaha yang digelutinya mempekerjakan koki yang telah memiliki pengalaman kerja 30 tahun di restoran. Bumbu masakan yang diolah banyak terpengaruh dari kuliner tanah Jawa dan Sunda yang dikomparasikan dan disesuaikan dengan lidah Makassar.

Ia berkeinginan menciptakan kuliner berkelas dengan harga yang terjangkau seluruh kelas ekonomi, dalam waktu 2 atau 3 bulan ke depan, Amel berencana menambahkan menu sup asparagus dalam daftar menunya.

Amel mengaku tertarik menggeluti bisnis kuliner Sari Laut setelah mempelajari karakter masyarakat Makassar yang doyan makan. Semakin tengah malam, semakin banyak orang yang keluar rumah sekadar untuk mencari makan. Peluang inilah yang ditangkap Amel dengan membuka usaha Sari Laut Mbak Amel–menggunakan nama Mbak Amel karena sari laut identik dengan Jawa.

Kini usaha yang digeluti Amel bersama kakaknya mampu menembus omzet Rp 9 hingga 10 juta per hari dan angka itu akan bertambah 2 kali lipat dalam bulan Ramadan.

 

Citizen Reporter: Isnaniah Nurdin


BACA JUGA